Refleksi

Bagaimana menyelaraskan nilai-nilai iman sejati dengan kecanggihan artifisial intelegensi saat ini?

Mampukah kita menghidupkan kembali nilai-nilai iman yang mungkin terlupakan dan bisakah kita menghadapi tantangan dan pertimbangan etis yang muncul di era digital ini?

Ikuti pembahasan menarik bersama:

Prof. Richardus Eko, selaku Rektor Universitas Pradita

Romo Salto Deodatus, Pr., selaku Romo Seminari Wacana Bhakti dan Komisi Panggilan - KKI KAJ

dalam Rekoleksi Pengusaha, Eksekutif & Profesional yang akan diadakan pada :

Sabtu, 18 November 2023
Pk. 08.00 - 17.00 WIB
Hotel Century Park, Senayan-Jakarta

Pengganti lunch & snack:
Rp 550,000,-/ pax
Tersedia 100 seats exclusive!

Link pendaftaran:
http://bit.ly/Pendaftaran_REPEKS2023

Informasi :
Julianti 0811-138-188
Tessa 0812-1815-4997
Christine 08112238168
Lindawati 0811-185-9123

Tuhan memberkati

 

(1623–1662) adalah seorang ilmuwan Prancis yang membantu meletakkan dasar bagi teori probabilitas modern, menemukan salah satu bentuk kalkulator paling awal, dan mendefinisikan prinsip hidrolika yang kemudian dikenal dalam fisika sebagai "hukum Pascal .” Di tahun-tahun terakhir hidupnya, ahli matematika, fisikawan, dan filsuf Katolik ini mengabdikan dirinya pada apologetika Kristen.

“Sebagai seorang Kristen, [Pascal] ingin berbicara tentang Yesus Kristus kepada mereka yang dengan tergesa-gesa menyimpulkan bahwa tidak ada alasan kuat untuk percaya pada kebenaran Kekristenan,” tulis Paus Fransiskus.

"Untuk bagiannya, dia tahu dari pengalaman bahwa isi wahyu ilahi tidak hanya tidak bertentangan dengan tuntutan akal, tetapi menawarkan tanggapan luar biasa yang tidak dapat dicapai oleh filsafat sendiri."

Paus menerbitkan surat itu pada 19 Juni untuk memperingati 400 tahun kelahiran Pascal pada 1623. Judulnya, “Sublimitas Et Miseria Hominis,” berarti “Keagungan dan Kesengsaraan Manusia.”

Dalam surat setebal delapan halaman itu, paus menggambarkan Pascal sebagai "orang pada masanya" yang membuat "pembelaan intelektual yang ahli terhadap iman Kristen."

“Sejak kecil, Pascal mengabdikan hidupnya untuk mengejar kebenaran. Dengan menggunakan nalar, dia mencari jejaknya di bidang matematika, geometri, fisika, dan filsafat, membuat penemuan-penemuan luar biasa dan menjadi sangat terkenal bahkan pada usia dini,” kata Paus Fransiskus.

“Namun dia tidak puas dengan pencapaian itu. Dalam satu abad kemajuan besar di banyak bidang sains, disertai dengan semangat skeptisisme filosofis dan religius yang tumbuh, Blaise Pascal terbukti sebagai pencari kebenaran yang tak kenal lelah, semangat 'gelisah', terbuka untuk cakrawala yang baru dan lebih besar.

“Pikiran Pascal yang cemerlang dan penuh rasa ingin tahu tidak pernah berhenti memikirkan pertanyaan, kuno namun selalu baru, yang muncul di dalam hati manusia: 'Apakah manusia sehingga Anda mengingatnya, anak manusia sehingga Anda memperhatikannya?' (Mzm 8:5).”

Surat itu diisi dengan kutipan-kutipan dari “Pensées” karya Pascal, karyanya yang paling terkenal tentang apologetika Kristen yang diterbitkan secara anumerta dari catatan dan fragmen manuskripnya.

Paus menyoroti bagaimana Pascal tidak pernah “tidak pernah menyerah pada kenyataan bahwa beberapa pria dan wanita tidak hanya tidak mengenal Yesus Kristus, tetapi juga meremehkan, karena kemalasan atau karena hasrat mereka, untuk menganggap serius Injil.”

Pascal menulis dalam Pensées-nya: “'Jiwa yang tidak berkematian begitu penting bagi kita, sesuatu yang sangat menyentuh kita, sehingga kita perlu kehilangan semua perasaan untuk tidak peduli dengan mengetahui apa yang dipertaruhkan… Dan itulah sebabnya, di antara mereka yang tidak yakin tentang hal ini, saya akan membedakan dengan jelas antara mereka yang melakukan segala upaya untuk menyelidikinya, dan mereka yang menjalani hidup mereka tanpa mempedulikannya atau memikirkannya.'”

Paus Francis juga menyebutkan keterlibatan Pascal dalam perselisihan antara Jesuit dan Jansenist di mana Pascal menulis serangkaian surat yang sangat kritis terhadap Jesuit yang dikenal sebagai “Surat Provinsi.”

Kontroversi tersebut terutama berkaitan dengan pertanyaan tentang kasih karunia Allah dan hubungan antara kasih karunia dan kodrat manusia, khususnya kehendak bebas kita.

Paus Yesuit menawarkan pembelaan terhadap Pascal, pertama-tama mencatat bahwa Pascal "tidak diberikan untuk memihak" tetapi "ditugaskan oleh kaum Jansenis untuk membela mereka, mengingat keterampilan retorisnya yang luar biasa."

Dia mengatakan bahwa Pascal sendiri mengakui bahwa "beberapa proposisi yang dianggap 'Jansenis' memang bertentangan dengan iman."

“Meski begitu, beberapa pernyataannya sendiri, seperti tentang predestinasi, yang diambil dari teologi Agustinus kemudian dan dirumuskan lebih parah oleh Jansen, tidak benar,” kata Fransiskus.

Paus menambahkan bahwa “Pascal, pada bagiannya, dengan tulus percaya bahwa dia sedang berjuang melawan Pelagianisme atau semi-Pelagianisme implisit” dalam ajaran Jesuit pada saat itu.

“Mari kita hargai Pascal dengan keterusterangan dan ketulusan niatnya,” katanya.

Paus Francis telah berulang kali berbicara tentang kekagumannya pada pemikir Prancis itu. Dalam sebuah wawancara pada Juli 2017, paus Yesuit mengatakan bahwa dia percaya bahwa Pascal “pantas dibeatifikasi.”

Pada tahun 2021, paus menyebut catatan tulisan tangan kecil yang ditemukan dijahit di mantel Pascal pada saat kematiannya sebagai "salah satu teks paling orisinal dalam sejarah spiritualitas".

Catatan, yang dikenal sebagai "Peringatan" Pascal, berasal dari pengalaman mistis pada malam 23 November 1654, yang menyebabkan filsuf itu menangis karena gembira.

Di antara kata-kata yang tertulis di halaman itu, Pascal menulis: “Yesus Kristus. Aku meninggalkannya; Saya melarikan diri darinya, meninggalkan, disalibkan. Biarkan aku tidak pernah terpisah darinya. Dia hanya dijaga dengan aman melalui cara-cara yang diajarkan dalam Injil: penolakan, total dan manis.”

Pengalaman Pascal pada malam tahun 1654 itu membawanya untuk lebih giat mempraktikkan iman Katoliknya dengan asketisme dan apologetika tertulis.

NB: Berita dilansir dari situs resmi CAN Newsletter https://www.catholicnewsagency.com/news/254599/pope-francis-publishes-apostolic-letter-on-blaise-pascal pada 20 Juni 2023.

Diterjemahkan oleh John Masneno (JM)

Rasul Petrus dalam suratnya memberikan nasihat yang penting ini: Datanglah kepada Kristus, batu yang hidup, yang dibuang oleh manusia, tetapi dipilih dan dihormati di hadirat Allah. Biarlah kamu dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, yang berkenan kepada Allah karena Yesus Kristus. Nasihat ini betul- betul menyentuh hati kita, betapa kita melakukan kebaikan dan kebenaran, di dalam cinta Tuhan, seringkali mendapatkan penolakan dan keraguan dalam kaca mata manusiawi hidup ini. Dan dalam cinta akan kasih Tuhan yang luar biasa, kita tetap menjadi pelayan kasih di dalam perjalanan hidup panggilan kita, bagi orang yang dipercayakan Tuhan kepada kita.

Kita adalah peziarah penuh kerapuhan, dan pada suatu titik kehidupan, kita dengan rendah hati tunduk pada kuasa cinta Allah dalam peristiwa berahmat tahbisan imamat suci. Kerendahan hati kita untuk menjadi abdi Allah sebagai imam, adalah sukacita iman, tidak saja dalam penghormatan dan penghargaan orang lain atas martabat kita, melainkan juga pada begitu banyak pergumulan dan pergulatan tantangan kehidupan imamat kita. Kita bukan manusia sempurna, kita seringkali gagal dan jatuh dalam kehidupan pribadi, kehidupan sosial dan karya pastoral kita setiap waktu. Kita memang seringkali menguatkan dan meneguhkan umat dan sesama kita, namun sungguhkah kita telah menjadi kuat karena kita adalah murid-murid Yesus yang setia sebagai rasul hingga akhir.

Nasihat Petrus dan narasi pentingnya pelayanan dalam kisah para rasul adalah ungkapan paling jujur dalam tulisan pewartaan ini, betapa kita ini bukan siapa-siapa dan tidak punya apa-apa, namun dalam Yesus, kita memiliki arti bagi sesama dan orang lain. Kita memang tidak bisa memiliki prestasi karena karier dan proses usaha untuk menjadi kaya, namun dalam kesederhanaan dan ketulusan kita setiap hari, kita telah memiliki harta kekayaan yang berlimpah dalam nama Tuhan Yesus: Maka kamu harus memaklumkan perbuatan-perbuatan agung Allah. Ia telah memanggil kamu keluar dari kegelapan masuk ke dalam terangNya yang menakjubkan.( 1 Petr. 2.9.).

Saudara-saudari terkasih....

Sukacita imamat, sungguh kita rasakan pada hari ini, ketika putra-putra tercinta yang kita kasihi ini, menerima urapan suci imamat. Kita bersukacita pertama-tama bukan karena kehebatan dan prestasi anak-anak kita, melainkan karena rahmat Allah yang begitu besar tercurah ke atas kehidupan anak-anak ini, tanpa memandang jabatan dan pangkat keluarga atau orang tua. Tuhan memilih setiap orang pada jalan tugasnya atau jalan kehidupan pada umumnya, dengan belaskasih dan kerahimanNya. Sukacita imamat ini harus terus dibagi-bagikan kepada orang banyak dalam setiap tugas pengabdian seorang imam, dan kita sungguh sangat berharap, betapa imamat suci ini sanggup meneguhkan kehidupan dunia saat ini, bisa mengusap air mata orang-orang susah dan terkucilkan serta bisa membangkitkan kembali harapan iman yang telah pudar bahkan hilang.

Saudara-saudara kita ini sebentar lagi akan menjadi Imam. Mereka lahir sebagai generasi milenial, dengan gaya dan karakternya yang khas. Mereka tahu bahasa dan gaya kehidupan milenial, bahkan mereka menjadi bagian dari bahasa dan gaya kehidupan itu. Ini sesuatu yang luar biasa, ketika imam generasi milenial ini pun harus sanggup masuk dalam kehidupan dunia saat ini tanpa harus kehilangan jati dirinya. Kemajuan zaman saat ini menjadi berkat sekaligus tanggung jawab, ketika adik-adik kita ini menjadikannya sebagai jalan untuk menebarkan jala lebih ke dalam, ke tengah kenyataan hidup kita saat ini. Kita berharap mereka tetap ingat kata- kata Yesus, "sesungguhnya barangsiapa percaya kepadaku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar daripada itu."

Saudara-saudari terkasih....

Kisah para rasul ini meneguhkan kita sekalian betapa imamat itu begitu bernilai dan berarti, bila dihayati sebagai pemberian diri tiada henti, dengan penuh sukacita. Paus Fransiskus dalam Seruan Apostolik Gaudete et Exultate mengajak setiap umat beriman, termasuk para imam untuk menghayati kegembiraan dan sukacita injili dalam hidup setiap hari. Para imam dipanggil untuk senantiasa menghayati kekudusan, dalam keseimbangan doa dan karya serta menjalani setiap tugas pengabdian dengan penuh cinta.

Menjadi imam bukanlah sebuah prestasi kehebatan pribadi apalagi prestise, dengannya kita ditempatkan pada dunia yang lain, yang begitu agung dan mulia, atau mungkin jarak yang begitu dalam dengan orang lain. Pilihan untuk menjalani panggilan khusus, sesungguhnya datang dari kasih kerahiman Allah sendiri, kita yang sudah berada dalam jalan panggilan ini diajak untuk menanggapinya dengan penuh ketulusan dan tanggungjawab. Dalam tema perayaan ini kita diajak oleh pemazmur untuk hidup dalam penyertaan kasih Allah, dan dalam cinta Allah, kita tetap kuat dan kokoh berjalan membangun dunia kita pada saat ini.

Tuhan telah menyatakan dirinya sebagai jalan, kebenaran dan hidup, dan di tengah gunda gulana dan kegelisahan hidup ini, kita tetap mengandalkan kasih Tuhan, yang mengampuni dan membebaskan kita. Ada tiga hal penting yang hendaknya kita hayati dalam tugas panggilan kita, terutama sebagai seorang imam.

Pertama, sakramen imamat adalah berkat Allah yang tercurah penuh cinta ke atas diri kita sekalian. Terimalah imamat ini dengan penuh sukacita, dan jangan merasa terbebani dengan begitu banyak impian lain yang bertentangan dengan rahmat imamat itu sendiri. Jalanilah kehidupanmu setiap hari dengan penuh cinta, bagikanlah berkat imamat kepada orang-orang yang dilayani. Imamat ini hendaknya dilingkari dalam ketulusan dan kesederhanaan, karena kebahagiaan tidak sama dengan kesuksesan, prestasi dan popularitas atau kekayaan berlimpah. Belajarlah dari kisah para rasul hari ini, tentang kebutuhan akan pelayan yang setia dalam tugas serta beriman teguh dalam pengampunan Yesus Kristus.

Kedua, ada begitu banyak orang yang kehilangan harapan dan membutuhkan peneguhan di tengah kehidupan mereka. Bahkan ada yang terjebak stress dan frustrasi hingga memilih cara yang paling tragis untuk mengakhiri kehidupannya. Sanggupkah kita sekalian membuka hati dan telinga kita untuk menjadi pendengar yang baik bagi mereka? Sanggupkah kita meneguhkan kembali umat kita yang kehilangan rasa percaya pada Gereja, merasa jenuh dengan kehidupan doa serta hampa dalam jiwanya? Kita bisa saja menjadi pengkotbah yang handal namun kita harus juga belajar untuk menjadi pendengar yang baik agar bisa menghantar umat kita pada Yesus sumber harapan dan cinta.

Ketiga, pupuklah roh persatuan, persaudaraan dan persahabatan dalam tugas imamatmu,(sebagaimana ditegaskan Prebyterorum Ordinis Nomor 8. Unum Sacerdotum, imam membutuhkan imam yang lain dalam hidup bersama di komunitas-komunitas pelayanan. Paus Yohanes Paulus II dalam Pastores Dabo Vobis 12 mengajak kita untuk membangun persaudaraan di dalam cinta, dan membongkar sekat-sekat persaudaraan yang dangkal. Melalui komunitas, kita mengatasi kesepian dan saling meneguhkan dalam setiap karya pelayanan. Ada sikap bijaksana serta inisiatif untuk menolong sesame imam, serta memahami setiap perbedaan sebagai berkat dalam kebersamaan.

Semoga Tuhan memberkati ziarah imamatmu kelak, tetaplah sederhana dan tulus dalam tugas panggilanmu dan tetaplah membangun sikap "saling mengasihi dalam cinta Tuhan". Semoga Bunda Maria mendoakanmu dalam suka duka kehidupan seorang imam yang setia dan terpuji. Amin.

Sunday, 07 May 2023 19:14

Berkaca pada Katuas Ernesto

Pagi ini, saya mengendarai sepeda motor menuju ke Pusat Paroki Balibo untuk merayakan Misa Hari Minggu di Pusat Paroki. Saya bertemu dengan seorang Bapa tua bernama: Ernesto! Dia sudah uzur umurnya, cacat tangan dan kaki tetapi ia masih bisa berjalan kendatipun pelan dan kelihatan sedikit sempoyongan. Ia berdiri di depan Residensia/Pastoran ketika saya tiba di Pusat paroki. Ia menyalamiku dengan senyum kegembiraan tanpa beban: Amo Bondia (tetun) yang berarti Selamat Pagi Pater sambil mencium tanganku sebagai tanda menerima berkat dari Tuhan melalui seorang pastor. 

Saya bertanya pada dia: Katuas nama siapa? Ia menjawab: Nama Saya: Ernesto! Seorang duda yang uzur usianya.  Saya bertanya lagi: Katuas dari mana? Ia menjawab: dari Belola; sebuah tempat di mana ia berasal masih dalam bagian Paroki Balibo. Lanjut saya bertanya: Katuas datang ke sini di antar orang atau berjalan kaki? Ia menjawab: Amo, saya berjalan kaki sejauh 5 kilometer untuk bisa mengikuti misa Hari Minggu pada jam 08: 00 pagi!

Jawabannya ini membuat hatiku tersentak penuh tanda tanya: Ia cacat tangan dan kaki tetapi ia berjuang untuk berjalan sejauh 5 kilometer demi menghadiri misa hari Minggu. Ia tidak punya motor. Ia tidak punya mobil atau kendaraan tradisional yang membantunya. Tetapi Ia tidak mengeluh jauh, Ia tidak cape berjalan, Ia tidak mau terlambat menghadiri Misa Hari Minggu pada jam 08:00 pagi. Ia hadir pada waktunya. Dan Ia mengikuti Misa Hari ini dengan dengan penuh iman, sejauh yang kupandang dari altar tempat saya berdiri. Dia khusuk mengikuti perayaan Ekaristi hingga berakhir. 

Setelah perayaan Misa, saya menemui dia di pelataran Pastoran. Ia minta berkat sekali lagi dan saat yang sama ia meminta: Amo beri saya sebuah Rosario! Ia meminta Rosario! Saya menjawab baik Bapa Ernesto, tunggu saya di sini! Saya tidak mengambil Rosario tetapi saya memberikan sesuatu yang lain untuk kebutuhannya. Ia menerimanya dan mengucapkan terima kasih dan meminta ijin untuk berjalan kembali! 

Saudara-saudariku yang terkasih.....
Bagiku, Bapa Ernesto mengajarkan saya tentang Iman kepada Allah yang tak pernah goyah. Karena imannya, ia selalu mencari untuk bersyukur kepada Tuhan atas apa yang telah didapatnya dalam hidup walau cacat kaki dan tangannya. Karena imannya, ia tidak cape berjalan dan terus mencari dan menemukan Tuhan walau dengan tertatih-tatih! Ia sadar bahwa Tuhanlah kekuatannya yang selalu menguatkan dia hingga saat ini. Ia percaya bahwa Tuhan selalu hadir dalam hidupnya. Yesus bersabda: "Barangsiapa melihat Aku, ia melihat Bapa. Bapa tinggal dalam Aku dan Aku dalam Bapa!" Katuas Ernesto melihat imi dalam hidupnya! Tuhan, itu hebat! Ia hadir dalam diri mereka yang kecil dan sederhana dan mengajarkan kita tentang iman, harap dan kasih!

Berkaca pada pengalaman perjumpaan tak terduga bersama Katuas Ernesto, saya berpaling pada realitas hidup umat beriman zaman ini. Banyak orang mempunyai motor bermerek, mobil mewah bermerek, dll: masihkah mereka ke Gereja pada hari Minggu ataukah ke pantai untuk berekreasi?? Masih pentingkah misa Hari Minggu bagi mereka yang katanya beriman pada Tuhan? Masihkah ada pengorbanan untuk mencari Tuhan dalam kebersamaan sebagai keluarga Kristen Katolik dalam perayaan Ekaristi bersama???
Katuas Ernesto telah mengajarkan aku dan kita untuk selalu beriman penuh tanggungjawab bukan sekedar mengatakan saya orang Katolik tulen tapi tidak datang bersyukur pada hari Minggu!

Semoga pengalaman nyata perjumpaan dengan Katuas Ernesto hari ini menyadarkan kita untuk beriman kepada Tuhan penuh tanggungjawab! Bukan sekedar mengatakan saya 'katolik' tanpa aksi nyata!

Minggu, 07 Mei 2023
Rumah Formasi Batugede - Timor Leste!
Pe. Richardo Pasang, SVD!

Selamat pagi semuanya. Selasa (02 Mei 2023) yang lalu ketika saya mengganti oli mobil di sebuah bengkel di jalan menuju Manleuana, saya menemukan seorang cacat ini sedang menambal ban motor. Hati saya tersentak melihat perjuangan seorang anak ini. Dia cacat tapi ia masih berusaha menafkahi hidup dengan bekerja tanpa lelah. Realitas banyak menunjukkan kepada kita banyak anak muda normal hanya duduk di jalan, tidak punya pekerjaan atau tidak mau cari kerja. Kapan mereka bisa memiliki hidup yang sesungguhnya? Tuhan berkati semua mereka yang berjuang untuk bekerja walau mereka tidak mampu. Berikanlah mereka rezeki yang secukupnya.

Keberpihakan kepada yang kecil dan tak berdaya adalah misi mulia Yesus yang seyogyanya menjadi misi kita bersama dalam realitas dunia ini. Karena itu, 'berjalanlah ke pinggir-pinggir ..........' maka kita akan menemukan banyak orang yang menanti sentuhan kasih dari hati yang tulus. Kesiap-sediaan dan keterbukaan hati menerima mereka apa adanya adalah momen di mana kita bisa membuat mereka tertawa, bergembira dan semakin menumbuhkan spirit perjuangan mereka. Dan saat seperti inilah adalah saat berahmat, saat keselamatan bagi mereka yang kecil dan tak berdaya! Mampukah dan beranikah kita untuk 'berpassing-over', berjalan ke pinggir dengan keterbukaan dan ketulusan hati? Tidak ada sesuatu yang tidak mungkin dalam Tuhan. Ia bersabda:"Akulah Jalan, Kebenaran dan Hidup!" Mari kita berjalan bersama Yesus untuk misi ini!

Per Mariam Ad Iesum nudar expresaun ida nebé mai housi lian Latinu ne’ebe literalmente ita bele traduz nune’e: liu hosi Maria to’o ba Jesus, ou husi Maria ba Jesus.

“Per Mariam Ad Iesum” lia-fuan ida ne’e bai-bain ita rona iha ita nia moris tomak nudar ema kristaun katolika. Maibe sai perguntas bo’ot ba ita mak, ita hatene no refleta ona lia fuan nee iha ita nia moris ka lae? No ita uza lia fuan ne’e hanesan lia-fuan ida sai hanesan lema ba ita nia moris ka lae? Dalaruma mos ita nia komprensaun kona ba liafuan ida ne’e prezisa tempu ne’ebe naruk atu ita refleta ba, maibe ho graca Maromak nian ita fiar katak iha tempu nia kontinuasaun bele lori ita ba hatene no komprende diak liu tan lia-fuan ida ne’e ho diak iha ita nia moris tomak nudar ema Kristaun.

Konhecimentu kona ba dotrina Igreija Katolika nian kona ba Inan Maria la do’ok husi saida mak haktuir ona iha Biblia Antigu Testamentu no Novo Testamentu nian, ne’ebe mos mak kontinua husi tradisaun Igreija nian hodi fo espikasaun ne’ebe mak diak mak hanesan: Ida, Kontribuisaun Nain Feto nian hatudu ona iha Biblia Antigu Testamentu nian. Ho ida ne’e, ita hare ninia tipolojia, ne’ebe mak sei iha relasaun ho saida mak akontece iha Novo Testamentu. Rua, Kontribuisaun Nain Feto hato’o ho klaru iha Biblia, liu-liu iha Novu Testamentu.  Tolu,  Kontibuisaun Nain Feto nian ikus mai barak mak hato’o husi tradisaun igreija nian ne’ebe mak liu husi matenek nain no sientestiku igreija nian sira, no tuir mai mos ita kontinua halao no tau iha pratika liturjia sira no hanorin iha Magisterium igreija nian rasik, ne’ebe mak hatudu duni katak Nain Feto Maria sai hanesan autor prisncipal no sentral iha historia hotu igreija nian iha tempu ba tempu.

“Per Mariam at Iesum”, liafuan ne’e iha ninia fantazen rasik mai ita hodi hatene no respeita nain Feto Maria. Tamba sa? tamba ho ita nia respeita ba iha nain feto Maria hanesan mos ita nia respeitu ba iha Jesus. Tamba liu husi Maria ita ba to Jesus. Mak, ho prinsipiu ida ne’ebe boot, ita bele hatete katak: Ida, Premiu hotu ne’ebe mak Maromak rasik hasae ba Inan Maria hanesan premiu ida ne’ebe mak Jesus rasik hetan, no premeiru sira ne’e hotu sai ida deit ba iha Kristu nia misaun. Rua, Prezisa hato’o ita nia baziku humildade no respita ba Inan Maria tamba ninia partisipasaun no kontribuisaun hodi sai hanesan Maromak nia inan. Tolu, Hanesan Maromak nia inan, Maria hetan bensaun special husi Maromak rasik no fo nia sai hanesan ema especial mos iha historia no planu hotu salvasaun Maromak nian.

Ho ida ne’e, Maria hetan preparasaun husi Maromak rasik no ida ne’e mos sai hanesan ninia vokasaun, no fo ba nia livre husi sala hotu no nia sai inan ne’ebe mak diak liu inan hotu-hotu iha mundu ne’e (Imaculate Conception). Atu komprende ezejensia santa Maria nian mak hanesan; a) Feto ran ida ne’ebe mak servisu hamutuk ho Jesus Kristu ne’ebe mak hanesan Adaun foun. b) Fatuk inan foun ne’ebe mak hahoris no hakous Jesus Kristu, ne’ebe hodi fo sinal iha Novo Testamentu.

Nain feto Maria halao ninia misaun hanesan Maromak nia inan no servisu iha planu hotu salvasaun Maromak nian. Tamba ho ida ne’e, hatudu katak partisipasaun nain feto nian ida ne’e, laos iha deit ho ninia hakarak hodi hakous no hahoris Jesus Kristu, maibe iha mos humildade ne’ebe boot ho kuida no akompanha Jesus hodi kontinua halao misaun hotu Maromak nian. (No ida nia halo laos deit wainhira nia sei iha mundu ne’e, maibe mos nafatin nia halo wainhira nia fila hikas ona ba lalehan).

Servisu hamutuk Nain Feto Maria ho graca spiritu maromak nian ne’ebe mak nia hetan, no rezultadu ne’ebe ita hetan ohin loron mak hanesan: a) Ninia hamutuk ho Jesus, wainhira sei hamutuk iha mundu ne’e, no mos iha ne’ebe sira fila ona ba mundu seluk no ikus mai hamutuk iha Maromak nia futar oin. b) Ho Jesus nia terus, Maria hi’it a’an sae ba lalehan. c) Maria sai inan ba ita hotu iha mundu ida ne’e, tamba Jesus rasik fo ona nia mai ita hanesan mos ita nia inan. d) No waihira nia hi’it a’an sae ba lalehan ona, maibe nia nafatin sai mediador ita nia hodi lori ita ba to Jesus Kristu liu husi ita nia orasaun no novena sira. e) No ikus liu mos, Inan Maria hetan titlu ne’ebe mak bo’ot tebes, iha ne’ebe Maromak rasik hili nia sai hanesan Lalehan no mundu nia liurai feto.

Ho Maria nia hi’it a’an sae ba lalehan no hetan titlu Liura feto lalehan no mundu nian, signifika katak nia fo ninia imaginasaun ne’ebe mak nakonu ho vitoria ne’ebe liu husi Jesus rasik nia mate no moris hias. No iha ne’e, ita hatene katak nia mak eskolante ou apostuladu ida ne’ebe mak bo’ot. Ho titlu liu rai feto no creda nia inan ida ne’e mos tamba, nia hakarak hato’o mai ita hotu katak ita hotu hanesan ida deit iha nai nia graca, maibe ho fiar mak buat hotu sei sai posibilidade mai ita iha ita nia moris. No ikus mai mos bele sai hanesan Jesus rasik ne’ebe mak fo nia aan ba mate hodi salva ema hotu nia sala, no hodi sai mos Jesus nia eskolante diak ida iha mundu ohin loron.

Konsili Vatikanu II hanorin: “Ho ida ne’e, hanesan mos saida mak Jesus nia inan halo ona iha lalehan fo ninia a’an no klamar tomak, hanesan lalenok no inisiu ida ba igreija ne’ebe mak tenki lao tuir dalan perfeisaun nian iha tempu ne’ebe mak tuir mai, hanesan mos iha mundu ohin loron (Maria) rasik fo naroman ba Maromak nia emar sira ne’ebe mak sei moris hanesan balada fuik ho sentidu katak sira iha esperansa ida ne’ebe mak boot tebes hodi hein katak loron ida sei mosu mai graca domin no dame husi Maromak (Lumen Gentium 68).

“Liu husi Maria ba to Jesus”, agora ita tama iha fulan Maio ne’ebe Igreja Universal tau prioridade hanesan fulan ba Nain feto Maria. Iha ne’ebe ita hotu celebra fulan Maria hanesan fulan “Reza Rosario” ka fulan “Reza Tersu” nian.

Ita koalia kona ba Maria, Maria sai hanesan sentru mai ita hotu iha ita nia fiar no vokasaun hanesan ema kristaun katoliko. Iha ne’e hau ata konvida ita hotu atu mai hamutuk ho hau hodi kontinua halo reflesaun ba Maria no hodi hatene ninia karakterestiku hanesan Jesus Nia inan no iha ninia kontribuisaun ba iha dalan moris salvasaun ita nian. Maria hanesan feto ran ida, maibe nai hili no eskoilha nia husi ita le’et, no hodi sai sasin salvasaun nian liu husi Kristu nia moris. Iha ne’e, hau konvida ita hotu ne’ebe mak ohin loron hola parte iha ne’e espeilu ita nia aan ho imagen ida ne’ebe mak ita tenki hamoris hanesan ema ne’ebe mak diak, honestu, humildade hanesan Maria iha aspetu sira mak hanesan spiritualidade, politikus no social.

Tuir mai mos ita bele aprende husi lalaok Moris Maria nian iha ne’ebe hatudu duni nia hanesan inan ida ne’ebe mak diak hodi hatudu no loke dalan salvasaun nian mai ita hotu iha mundu ida ne’ebe mak plural, iha ne’ebe pluralismu mundu nian ohin loron mai ho sinal oi-oin hanesan realidade sosial, obrigasaun politiko, no mos moris inviduais iha familia no sociedades. Iha parte ida ne’e, ita hatene katak fiar sei la haktaka aan iha ninia a’an rasik maibe nia sempre sai hanesan ai-hun ida ne’ebe mak hodi hatudu ninia originalidade no otentidade iha situasaun hotu moris nian ne’ebe mak ita hasoru iha ita nia situasaun moris loron-loron nian, hanesan iha merkadu, dalan, uma, sociedades no instituisaun. Ita hatene ema barak ne’ebe mak fiar iha tempu ida agora tamba sira hakarak hatudu paradoksaun ne’ebe mak la se’es husi sira nia moris; signifika ema barak iha fiar no lalaok moris social no politiku nian ne’ebe mak iha nunka mais atu reprezenta identidade sira nian hanesan ema ne’ebe mak fiar nain.

Sabedoria kona ba Maria hanesan Inan ne’ebe mos mak mai husi ita ema bai-bain ne’ebe kria hotu husi Maromak rasik ida ne’ebe mak ita hahi no hanai, “nia ne’ebe hahoris tuir ra’an Hanesan Lia-fuan diak husi Maromak rasik,” ne’ebe mak hanesan fatuk inan ne’ebe hatu’ur a’an metin hodi sai sasin no responsavel ba fiar ne’ebe mak iha sentidu salvasaun. Ninia obrigasaun sai hanesan Theotokos ne’e, tamba Maria sai no hi’it a’an hanesan sentru iha dalan salvasaun moris fiar nian. Maibe mos, iha dalan seluk dehan katak nia sai hanesan komprensaun husi kristologia ne’ebe mak saudavel, mak ita uluk nai-nain tenki halo reflesaun ba Maria hanesan inan iha ninia a’an rasik, no implikasaun mai ita nia moris iha familia, sociedades, no iha ita nia nasaun ida ne’e.

Koalia kona ba realidade ne’ebe mos mak akontese iha ita nia rain no nasaun ida ne’e, hanesan iha fulan Maio no Outobru, ita sarani katolika bai-bain halao aktividades reza tersu, ida ne’e mak akonetce iha grupu ki’ik ne’ebe mak individual, iha familia, ou iha mos bairo sira ita hela ba.

No reza tersu ne’e mos agora mai ita sai trend iha tempu agora, iha ne’ebe ita hili liu fatin sagradu sira hodi halo peregrinasaun mak hanesan; ita halo perigrinasaun ba Nain Feto Ramelau, Nossa Senhora de Aitara iha Soibada, Fatubesi no seluk-seluk tan. No iha fatin ida hau la sala iha fatu besi hakerek lia fuan ida ne’e “Per Mariam at Iesum”.

Frase simples ida ne’e, iha ninia indikasaun ne’ebe mak bo’ot hodi klarifika mai ita katak ita nudar sarani katolika iha devosaun no reza tersu ba nain feto boot tebes. Iha ne’e, mos hakarak hatete katak ita nia reza tersu ho ninia tipu kritosentris, signfika ita nia orasaun bazeia ba Jesus Kristu ne’ebe mak hanesan autor ba salvation. Indikasaun ida ne’e hatudu husi misterio ne’ebe mak ita uza hodi reza.  

Ho nonok ne’ebe mak ita halao no reza tersu lolos ne’e hanesan mos mensagen murak husi biblia nian, iha ne’ebe Maria rasik hetan vizita husi anjo Gabreil ne’ebe mak tun ba nia hodi lori lian murak, lian salvasaun, lian moris nian. Iha ne’e, hau bele dehan deit katak reza tersu hanesan rezumo ida husi Biblia.

Reza tersu hanesan reza ne’ebe mak mai rasik husi Nain Feto Maria (Magnificat) iha ne’ebe hatudu ninia sinal inkarnasaun husi Maromak ne’ebe mak hahu husi ninia kous fatin (Rahim).  

Ho reza tersu, sinal katak ita simu doktrina nain feto nian, ne’ebe mak konvida no dedika ita hodi halo reflesaun profundu ba iha nia oin nia kmanek.

Ho reza tersu, ita simu sinal Jesus nian no refleta ninia domin ne’ebe mak la iha rohan.

Ikus liu, hau ata hakarak hatete deit katak, terminolojia husi lia-fuan ‘Per Mariam ad Iesum’, hanesan liafuan ida ne’ebe mak sai popularidade iha mundu ohin loron, espera katak liafuan ne’e sai ona ita nia lema ida hanesan ema kristaun katolika hodi nafatin kontinua halo orasaun no devosaun liu husi tulun no bensaun Nain Feto Maria nian. “Mai ba, badinas reza tersu no devosaun ba Inan Maria, atu nune’e ita bele ba to iha Ita nia Jesus”, ‘Per Mariam ad Iesum’.

P. Heri Soares, SVD (Pastor Pembantu di Paroki Santa Maria Ratu Rosari Uatolari, Viqueuqe Timor-Leste)

Benar juga ungkapan hati Santo Paulus di Filipi 3:3-8. Di teks ini Rasul Tuhan ini mengungkapkan kerendahan hati dan kekagumannya kepada Allah yang maha agung dalam diri Yesus, Putra Allah.
Paulus mengakui bahwa karya-karya Allah melalui Yesus jauh melebihi apa yang dilakukannya dan seringkali dibanggakannya. Sebelum bertemu Yesus, Paulus bangga dengan segala atribut, identitas diri dan semua yg telah dilakukannya. Namun setelah berjumpa Yesus, dia menyadari semua hal yang dibanggakannya ternyata hanyalah kebanggaan ala manusia duniawi yang fana dan tak seberapa pengaruhnya dengan kebesaran Tuhan dan karya2-Nya.

Prestasi dan sukses ala dunia dalam usaha karier perjuangan mendatangkan kebanggaan tersendiri dalam diri orang yang menggapainya, dan kadang membuat orang lupa diri dan hanyut dalam kemegahan diri.

Namun semuanya akan jauh lebih indah dan mulia kalau dilihat dan dimaknai dari perspektif iman akan Tuhan sebagai sumber berkat dan perancang serta penyelenggara utama hidup dan karya perjuangan manusia.

Kata- kata Santo Paulus ini mengajak kita membathin guna meliihat ke dalam kisah hidup kita serta memaknai hasil karya dan sukses-sukses kita dalam kerangka karya Tuhan. Otensitas melaksanakan pembathinan ini akan membantu kita melihat kedasyatan karya Tuhan yang telah dikerjakan dalam hidup kita. Hasil pembathinan ini akan melahirkan syukur dan syukur dari nubar kita yang terdalam pada DIA yg luar biasa karya- Nya dalam hidup dan perjuangan kita selama ini.
Semakin berjalan pada rel iman ini, kita semakin bertumbuh kembang dalam keyakinan dan optimisme akan kehadiran Tuhan di tengah kehidupan kita karena hati kita sendiri telah melihat keberadaan Tuhan dalam hidup kita. Kita pun terdorong untuk mau terus melibatkan Dia dan menjadikan Dia sbg penyelenggara utama perjuangan kita.

Teruslah hidupi keyakinan iman demikian karena Tuhan pasti terus menyertai dan memberkatimu. Amin.✝️?✨ John Masneno SVD, 03112022

Wednesday, 19 October 2022 21:40

PERAN SABDA DALAM GEREJA MISIONER

Pada hari Sabtu, 15 Oktober 2022 yang lalu, Komunitas Verbum Domini (KVD) merayakan ulang tahunnya yang ke-6. Bertempat di gedung Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) di Lantai 9, Jl. Salemba Raya No. 12, KVD mengadakan Seminar dengan tema : “Peran Sabda Dalam Gereja Misioner”. Seminar tersebut dibawakan oleh dr. Irene Setiadi, seorang misionaris awam, katekis dan pendiri dari KVD.

Dalam materi seminarnya, dr. Irene Setiadi memulainya dengan seruan apostolik Paus Fransiskus pada tahun 2013 Evangelii Gaudium (Sukacita Injil) dan Perutusan Agung di dalam Kitab Suci (Mat 28:19-20) serta mengutip pernyataan dari St. Hieronimus : Ignoratio Scripturarum Ignoratio Christi Est (Tidak mengenal Kitab Suci berarti tidak mengenal Kristus).

Seminar dibawakan beliau dengan sangat lugas menggunakan kata-kata yang sederhana sehingga dapat dengan mudah dipahami oleh peserta seminar. Beliau menekankan kepada pentingnya untuk mewartakan dan memuliakan Allah, mencitai Tuhan sebagaimana Tuhan mencinta, sukacita dan taat kepada panggilan, menjadi mitra keselamatan Allah bagi dunia, merespon dan bertanggung jawab serta mengikuti teladan yang telah Yesus berikan sendiri.

Dr. Irene Setiadi telah menjadi misionaris awam lebih dari 20 tahun dan membagikan pengalamannya tersebut kepada para peserta seminar. Beliau mengakhiri materinya dengan berpesan agar berkomitmen kepada janji baptis dengan semakin mantap mencitai Tuhan, sesama dan diri sendiri.

KVD yang dibentuk oleh dr. Irene Setiadi adalah sebuah komunitas pecinta Kitab Suci yang menekankan kegiatannya dengan refleksi dan ber-sharing antar anggota didasarkan kepada Kalender Liturgi Harian Gereja Katolik. Kegiatan ini dapat saling memperteguh, menghibur dan menguatkan antar anggota komunitas lewat pengalaman hidup mereka yang nyata sehingga Sabda Allah bukan lagi hanya susunan huruf-huruf dalam sebuah buku yang tidak memiliki makna, tetapi sungguh-sungguh menjadi Sabda Allah Yang Hidup.

KVD yang dideklarasikan di gedung LAI pada tanggal 15 Oktober 2016 dengan pembimbing Prof. RP. (Em) Martin Harun, OFM dan moderator RD. Yohanes Subagyo, beranggotakan kaum klerus dan awam. Di dalam jajaran pengurus pun terdapat RD. Yosep F. Susanto dan Bp. Hortensius Mandaru sebagai penasehat serta RP. John Masneno, SVD sebagai pembimbing spiritual. Di group sharing ada juga RP. Wilfrid Babun, SVD yang menjadi anggota aktif. KVD sekarang ini menjadi komunitas lintas paroki, lintas keuskupan bahkan lintas negara dan memiliki anggota ratusan orang yang benar-benar mencintai Kitab Suci. Anggota-anggota KVD dikelompokan di 5 group sharing didampingi Admin dan Moderator. Para Admin KVD saat ini yakni Ibu Florentina Kartinah, Ibu Francisca Mei Ling, dan Ibu Brigita Caroline. Sedangkan para Moderator antara lain: Ibu Albertin Hanny Indrawati, Ibu Lucy Ambarwati, Ibu Doktrina Prilanery Simbolon, Ibu Francisca Xaveria Engmawati, Bpk. Yohanes Rusmanto Irianto, Bpk. Ho Fudianto, dan Bpk Andry Surya. Sejauh ini group-group sharing berjalan baik dan menjadi tanda jelas yang menunjukkan antusiasme dan kecintaan pada Sabda Tuhan, serta upaya semakin mendekatkan diri dengan Sabda Tuhan sebagai penuntun langkah hidup. Hal ini bisa terlihat dari sharing-sharing harian para anggota yang diposting di group-group KVD. Hadir di acara HUT KVD ke-6 juga para Admin dan para Moderator serta beberapa anggota KVD.

Perayaan HUT KVD seperti ini menjadi momentum yang baik semakin memumpuk kasih persuadaraan di antara para anggota dan pengurus serta semakin membakar semangat mencintai Sabda Tuhan. Hal ini disimbolkan dengan Kue HUT KVD yang berbentuk KItab Suci suatu aSetelah acara pemotongan kue ulang tahun yang berbentuk Kitab Suci, acara ajakan untuk bersukacita dalam ziarah bersama Tuhan dan SabdaNya. Acara ramah tamah antara pengurus, moderator, admin group dan anggota juga berguna mempererat hubungan yang selama pandemi Covid-19 tidak pernah berinteraksi secara offline. Selamat Ulang Tahun KVD ke-6, Semoga Sabda Allah Yang Hidup dapat menjadi pelita dan pemandu bagi kehidupan kita semua.

Many books can inform you but only the Bible can transform you (banyak buku bisa memberikan informasi kepada Anda, tetapi hanya Sabda Tuhan yang mampu mentransformasi hidup Anda).

Oleh Andry Surya (Ketua Umum Komunitas Verbum Domini)

Sahabat-sahabat Tuhan ytk,

Salam jumpa lagi melalui Ulasan Biblis Spiritual edisi perdana di Tahun 2021 ini. Salam Natal dan Tahun Baru 2021 untuk kita semua. Mengikuti ucapan dan ungkapan hati melalui ucapan-ucapan Natal dan Tahun Baru pada umumnya menampilkan pesan bernada harapan agar bisa menjalani Tahun Baru 2021 ini dengan aman, damai, sehat rohani jasmani, lancar, bahagia serta dilimpahi berkat rohani dan jasmani pula. Inilah impian dan harapan yang kita semua dambakan dalam perjalanan kita dari tahun ke tahun termasuk di tahun yang baru ini.

Sudah pasti ada banyak sumber dan pihak yang bisa kita jadikan sebagai tumpuan harapan untuk membantu kita menggapai impian-impian tersebut. Namun kita semua pasti mengamini bahwa Tuhan masih menjadi sumber dan garansi terbaik yang bisa menjamin kita mendapatkan semua yang disebutkan di atas. Inilah inti pesan yang ditampikan Sabda Tuhan pekan Panampakan Tuhan ini. Allah yang kita imani penuh kasih perhatian kepada kita dan sanggup memberi pertolongan kepada manusia termasuk di situasi manusia tak berdaya lagi.

Injil Kamis, 7 Januari lalu menampilkan visi misi Yesus Kristus, Putra Allah yang diutus Bapa sebagai Immanuel (Allah yang selalu bersama kita) dan siap menjadi penolong kita: "Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang (Lukas 4:18-19)

Proklamasi keselamatan Tuhan itu tidak sekedar bualan kata-kata hampa melainkan suatu pernyataan visi misi luhur yang ditunjukkan dalam kata dan tindakan-Nya:

  • Mengunjungi berbagai wilayah, mengajar dan menyembuhkan orang dari berbagai sakit penyakit dan kelemahan (Injil hari Senin, 4 Januari)
  • Memberi makan kepada ribuan orang (Injil Selasa 5 Januari)
  • Menenangkan serangan badai yang melanda perahu para murid-Nya (Injil Rabu 6 Jan.)
  • Menyembuhkan seorang yang sakit kusta (Injil hari Jumat 7 Januari kemarin)

Menyimak karya-karya Tuhan tersebut, kita diyakinkan bahwa Kristus sungguh datang sebagai Immanuel, penebus dan penolong umat manusia baik secara umum maupun secara pribadi. Dan hal ini menjadi peneguhan bagi kita untuk terus menaruh iman harapan kita pada Tuhan sebagai garansi terbaik bagi perjalanan hidup kita di tahun 2021 ini. Kisah-kisah biblis yang ditampilkan kita kepada kita di pekan Penampakan Tuhan ini tidak sekedar menjadi suatu memorial akan apa yang terjadi pada masa silam, melainkan suatu ajakkan bagi kita untuk menaruh keyakinan iman dan harapan serta kasih sejati bahwa Allah senatiasa menyertai kita di 2021 ini. Meskipun 2021 masih penuh tanda tanya akan apa yang terjadi di tahun ini, termasuk ancaman Covid-19 yang masih enggan menjauh dari kita, namun kita percaya Tuhan yang sama yang telah menjamin hidup kita pada tahun-tahun sebelumnya, adalah Tuhan yang sama yang menjadi andalan dan tumpuan harapan kita juga di 2021 ini.

Sikap para murid yang salah memahami kehadiran TUHAN sebagai HANTU saat badai mengancam mereka, menjadi bahan refleksi yang perlu kita direnungkan:

  • apakah kita sungguh beriman kokoh pada Tuhan, mengenal kehadiran-Nya dan mau terbuka seperti Si Kusta memohon dan bersedia menerima tawaran pertolongan Tuhan?
  • Apa saja yang masih mempengaruhi cara berpikir saya sehingga sering salah memaknai kehadiran Tuhan dan karya pertolongan-Nya dalam hidupku?

Sikap Si Kusta yang terbuka meminta bantuan dari Tuhan menjadi satu bahan refleksi bagi kita di tengah situasi dunia kita saat ini: apakah Tuhan masih menjadi andalan dan penolong utama saya, atau saya lebih percaya pertolongan manusia dan bantuan teknologi mutakhir saat ini? Sikap bingung dan tak berdaya kita menghadapi covid-19 menjadi suatu alarm serius  bagi kita semua bahwa tumpuan harapan pada pengetahuan dan kemampuan manusia TERNYATA TERBATAS DAN TAK MAMPU MEMBERIKAN GARANSI ABADI KETIKA MANUSIA HARUS BERURUSAN DENGAN MATI ATAU HIDUP. Maka bolehlah meminta bantuan manusia tapi jangan pernah melalaikan dan mengabaikan peran Tuhan sebagai penolong sejati.

Semakin melalaikan hal ini akan semakin tumbuh ketakutan dan kecemasan khususnya di saat semua garansi pengetahuan dan teknologi yang diandalkan sudah tidak mempan lagi daya kerjanya menolong kita. Iman mendapat tempat dalam situasi ini untuk menyingkap dan menyatakan suatu kebenaran sejati yang telah diamini nenek moyang kita sejak dulu kala bahwa pada Allah yang Mahakuasa dan Penolong sejati ada garansi kekuatan yang sanggup mengusir ketakutan, kecemasan, ketakberdayaan, kegelapan, kekalutan, kepanikan dll. Kalau bantuan teknologi membantu kita datang dari luar diri kita, maka Iman menjadi jembatan tol yang menghubungkan diri kita (dari dalam diri kita) dengan Allah yang Mahakuasa sehingga kita mendapatkan ketenangan budi, jiwa, hatin bathin.

Di akhir UBS ini, kita disuguhi 5 pemahaman dan sekaligus tips bertolak dari Sapaan Sabda Tuhan pekan ini, yang bisa membantu kita dalam ziarah kita di 2021 ini:

  1. Perayaan Natal bukan sekedar seremoni memorial akan kelahiran Tuhan 2000 tahun silam, melainkan suatu pernyataan kasih Allah bagi kita di zaman ini bahwa Allah senantiasa hadir dan tinggal bersama kita juga di zaman ini. Maka kesediaan menghidupakan seruan Santo Yohanes untuk semakin menaruh iman, harapan dan kasih pada Tuhan akan sangat besar manfaat bagi ziarah kita di 2021 ini.
  2. Sikap para murid yang salah menyangka kehadiran TUHAN sebagai HANTU menjadi suatu ajakan bagi kita untuk perlu berhati-hati terhadap mindset-mindset keliru yang ada dalam kehidupan sosial yang sering mempengrahi cara berpikir dan sikap kita.
  3. Sikap Si Kusta yang mau meminta pertolongan pada Tuhan mengajak kita merenung: kepada siapa saya meminta pertolongan khususnya dalam urusan dengan hal-hal yang hakiki menyakut hidupku. Ketepatan menaruh harapan dan pertolongan kita akan semakin mudah membantu kita mengatasi tantangan-kesulitan yang kita alami. Sebaliknya salah meminta bantuan bisa menjadi boomerang bagi kita sendiri.
  4. Sikap Yesus yang selalu mencari waktu di tengah aktifitasnya untuk berdoa menjadi suatu tips bagi kita untuk senantiasa memberi ruang dan waktu guna mengisi baterai HP diri kita dengan kekuataan kasih dan kuasa Allah, sumber dan andalan hidup kita. Kita perlu menyadari dan menghindari slogan-slogan keliru tentang waktu dan ruang untuk Tuhan yang terkesan sebagai anjuran baik, padahal hanya meminimalisir (mengurangi) porsi waktu dan ruang kita bersama Tuhan. Orang yang semakin mengakui peran hakiki Tuhan dalam hidupnya akan semakin memberi porsi waktu dan ruang untuk Tuhan.
  5. Di tengah dunia yang cenderung membesarkan nama dan popularitas diri sendiri, semangat hidup Santu Yohanes Pembantis, untuk membiarkan Allah semakin besar dan dirinya semakin kecil (Injil hari ini), akan sangat manfaatnya bagi perjalanan kita di 2021. Dan kita lebih bahagia menghidupi semangat demikian karena Tuhan yang kita agungkan akan semakin memberkati hidup kita.

Selamat merenung, Tuhan selalu menyertai dan memberkati kita sepanjang 2021 ini. Amin

Oleh P John Masneno, SVD (Pengurus Pusat Spiritualitas Sumur Yakub)

 

 

Sahabat-sahabat Tuhan ytk,

Salam jumpa lagi melalui Ulasan Biblis Spiritual (UBS) mingguan di akhir pekan II November 2020 ini. Sebagaiamana biasanya, kita mengawali momen refleksi mingguan ini dengan meluangkan beberapa detik mensyukuri segala perlindungan dan berkat Tuhan bagi kita. (hening sejenak kenang dan syukuri berkat-berkat Tuhan sepanjang pekan ini dari Minggu 8 Nov- Sabtu hari ini).

UBS ini mengajak kita mengarahkan fokus perhatian kita pada dua topik yang menjadi titik sentral Sabda Tuhan pekan ini yakni hidup akhirat dan bagaimana mempersiapkannya dalam ziarah hidup ini. Kisah Joe Biden dipakai sebagai kisah inspiratif yang menghantar kita merenungkan intisari Sabda Tuhan sepanjang Pekan Biasa XXXII ini.

Joe Biden adalah salah satu presiden tertua dalam sejarah Presiden USA. Tak heran muncul pertanyaan: ‘apakah dalam Usia 77 tahun Biden masih bisa memimpin Negara Adidaya itu?‘ Mungkin secara fisik, karena faktor usia, hal ini masih menjadi satu pertanyaan yang perlu dijawab nanti. Namun dari segi kemampuan memimpin, Biden boleh dibilang merupakan orang Amerika terbaik saat ini yang layak untuk memimpin US. Kiprahnya dalam dunia politik dan kepemerintahan Amerika Serikat selama kurang lebih lima dekade tentu menjadi garansi tersendiri bagi kepemimpinan Biden dan bagi bangsa Amerika saat ini.

Memulai karya politiknya pada tahun 1972 sebagai salah satu senator termuda dari enam senator termuda lain sepanjang sejarah Amerika Serikat. Seperti Yesus, Biden memulai karya publiknya sebagai senator dari wilayah Delaware pada usianya 30 tahun.  Sekalipun dia berasal dari keluarga miskin yang sering tidak diperhitungkan dalam bursa pertarungan politik dengan senior-senior yang lebih berpengalaman dan berduit, namun dengan terpilih sebagai senator di usia belia ini menjadi titik-titik awal pembuktian bahwa Biden sebenarnya memiliki suatu kualitas dalam dirinya sehingga bisa menggungguli kandidat senior lainnya. 

Perjalanan kariernya sebagai pelayan publik juga tak semudah membalikan telapak tangan. Sejak awal kariernya, Biden sudah harus berhadapan tantangan dan kesulitan besar. Ketika kegembiraan sebagai senator terpilih masih menghangat dalam hatinya dan sedang mempersiapkan pelantikan dirinya sebagai Senator termuda pada 5 Januari 1973, Biden harus menghadapi satu pengalaman pahit. Biden harus kehilangan istrinya Neilia Hunter dan putirnya Naomi yang meninggal akibat kecelakan lalu lintas pada 18 Desember 1972. Dua puteranya masih selamat dari peristiwa maut itu namun keduanya harus menjalani pengobatan serius. Berkat  dukungan keluarga dan sahabat-kenalannya, Biden mampu dan berani terus maju dalam kariernya serta bersedia dilantik sebagai senarator.

Mengingat kondisi kedua putranya masih dalam perawatan serius, maka Biden pun memutuskan untuk tetap menetap di Greenville-Wilmington-Delaware dan bersedia melakukan travel 90 menit dengan kereta api atau 2 jam dengan mobil setiap hari ke tempat tugasnya di Washington DC. Artinya setiap hari Biden membutuhkan paling kurang 3 jam untuk PP Dalerwave- Washindon D C. Dan kebiasaan ini ternyata bukan hanya selama anak-anaknya dalam perawatan medis. Biden meneruskan kebiasaan ini selama 36 tahun menjadi senator.

Bisa saja melalui aktifitas hariannya selama bertahun-tahun ini turut mempengaruhi pola pikir dan perhatiannya serta kebijakan pada bidang kesejahteraan umum. Satu contoh baik dari Biden dalam urusan hidup menggereja dan berparoki yakni beliau masih tetap aktif juga dalam kegiatan parokialnya di Paroki St. Yoseph Brandywane Wilington Delaware. Biden juga adalah sosok yang seringkali memperjuangkan kepentingan umum, hal- hal kemanusiaan bahkan melawan kebijakan pemerintah US mengadakan Perang Teluk. Kadang "diasingkan" (tidak disukai) oleh pihak tertentu karena orientasinya pada nilai-nilai kesejahteraan umum dan kemanusiaan seperti menolak ditingkatkannya biaya produksi senjata di USA, dll.

Apapun tantangan dan hambatan serta konsekuensi yang dialaminya tak mengurangi perjuangannya untuk kepentingan umum. Efek-efek positif dari visi misi dan kebijakan politiknya perlahan-lahan membuka mata publik Amerika bahwa Biden memiliki perjuangan luhur untuk USA dan dan dunia. Banyak penghargaan telah diterimannya sebagai apresiasi atas karya dan perjuangannya. Semuanya itu menjadi afirmasi tersendiri atas buah perjuangannya sebagai senator selama 36 tahun (6 kali terpilih dengan rata-rata perolehan suara di atas 60%) dan sebagai wakil presiden selama 8 tahun (2 kali terpilih).

Bisa jadi penghargaan Presidential Medal of Freedom yang diterimanya pada tahun 2017 menjadi salah satu inspirasi yang mendorong Biden mau maju sebagai calon Presiden untuk semakin mendedikasikan hidupnya bagi orang Amerika dan dunia. Kekalahan besar presiden aktif Trumph menjadi bukti jelas bahwa orang Amerika lebih memilih Biden sebagai orang yang mampu menghantar mereka ke hidup yang lebih baik dari situasi sekarang.

I’m honoured that you have chosen me to lead our great country adalah kata-kata terima kasih kepada rakyat USA yang telah memilih dia sebagai Presiden US ke-46 dan sekaligus menjadi expresi tekad dan kesediaanya untuk memimpin Negara besar USA. Kursi presiden yang diraih Biden sekarang merupakan suatu hasil dari komitmen hidupnya selama bertahun-tahun sebagai politisi dan aparat pemerintah. Visi-misi yang luhur, komitmen pribadi yang telah teruji dari waktu ke waktu, dan proses yang berkualitas menghasilkan buah yang berkualitas pula. Tentu saja untuk suatu perjuangan yang berkualitas pula ke depan sebagai presiden.

Kisah Biden ini bila menghantar kita merenungkan impian kita untuk hidup akhirat yang digaungkan kepada kita melalui bacaan bacaan suci sepanjang pekan ini. Seperti Biden, kitapun akan mencicipi kebahagiaan di akhirat bila kita sungguh mengupayakan suatu hidup yang berbobot sepanjang proses perjalanan siarah kita di dunia ini. Inilah topic-topik sentral pekan ini yang disuarakan kepada kita melalui Sabda Tuhan dan refleksi-refleksi biblis sepanjang pekan ini yang di publikasikan di website Sumur Yakub ini:

Pesan inti dan reflesksi-refleksi biblis sepanjang minggu ini sengaja ditampilkan kembali di UBS akhir pekan ini agar menjadi penyegar rohani bagi kita sekaligus mengajak kita mengupayakan penghayatannya dalam hidup kita. Selamat merenung, Tuhan memberkati.

Oleh P John Masneno, SVD (Pengurus Pusat Spiritualitas Sumur Yakub)

Page 1 of 5

Kegiatan Terbaru

...sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa (Yohan...

25 October 2023
...sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa (Yohanes 15:5)

Bagaimana menyelaraskan nilai-nilai iman sejati dengan kecanggihan art...

PERAN SABDA DALAM GEREJA MISIONER

19 October 2022
PERAN SABDA DALAM GEREJA MISIONER

Pada hari Sabtu, 15 Oktober 2022 yang lalu, Komunitas Verbum Domini (K...

BILBE ZOOM IV PUSPITA SUMUR YAKUB BERSAMA KARDINAL SUHARYO

18 October 2022
BILBE ZOOM IV PUSPITA SUMUR YAKUB BERSAMA KARDINAL SUHARYO

Bible Zoom-Youtube Live-Streaming diadakan lagi oleh Tim Pengurus Pusa...

BILBE ZOOM III PUSPITA SUMUR YAKUB BERSAMA MGR. DR. SILVESTE...

16 October 2022
BILBE ZOOM III PUSPITA SUMUR YAKUB BERSAMA MGR. DR. SILVESTER SAN

Tim Pengurus Pusat Spiritualitas (Puspita) Sumur Yakub SVD-SSpS Indone...

BILBE ZOOM II PUSPITA SUMUR YAKUB BERSAMA P. LUKAS JUA, SVD

14 October 2022
BILBE ZOOM II PUSPITA SUMUR YAKUB BERSAMA P. LUKAS JUA, SVD

Tim Pengurus Pusat Spiritualitas (Puspita) Sumur Yakub SVD-SSpS Indone...

Tentang Kami

Nama yang dipilih untuk sentrum ini adalah “Pusat Spiritualitas Sumur Yakub” yang mempunyai misi khusus yaitu untuk melayani, bukan hanya anggota tarekat-tarekat yang didirikan Santu Arnoldus Janssen saja tetapi untuk semua... selebihnya

Berita Terbaru

©2024 Sumur Yakub - Pusat Spiritualitas. All Rights Reserved.

Search