Renungan

Displaying items by tag: renungan katolik

Konfrater sekalian, para suster, saudara/i yang terkasih dalam Sang Sabda.

 

Saya mulai renungan ini dengan satu cerita pengalaman sederhana. Empat tahun lalu, saya masih bekerja di salah satu pulau wilayah paling selatan Filipina, di sebuah pulau perbatasan (border crossing) dengan Indonesia yang penduduknya predominantly muslim. Waktu itu hari Lebaran, saya berinisiatif mengujungi seorang sahabat, tokoh Muslim dan imam yang cukup berpengaruh di pulau itu untuk bersilaturahmi. Saya membawa sebuah baju batik khas Indonesia sebagai hadiah. Setiba di rumahnya saya diterima dengan sangat ramah. Dia dan keluarga senang sekali, tetapi yang membuat saya kagum adalah ketika pulang, dia menaruh sebuah bingkisan di tas saya. Ketika tiba di pastoran, saya membuka bingkisan tersebut, ternyata isinya adalah sebuah Alquran, Kitab Suci agama Islam, dalam dua versi, bahasa Arab dan bahasa Inggris. Ada secarik kertas, di halaman depan, dengan tulisan, “Kita semua ada di jalan yang sama, sebagai pembaca dan pewarta Sabda Allah.”

 

Secuil pengalaman sederhana tidak hanya sekedar, sebuah peringatan (reminder) bagi saya pribadi sebagai seorang biarawan misionaris pewarta Sabda, tetapi Sabda Tuhan sebenarnya bisa menjadi terang di semua situasi, bahkan di tengah situasi yang super jamak sekalipun. Sabda Tuhan mempererat, bukan meretakan, ia mempersatukan bukan melepas-pisahkan.

 

Dan ini senada dengan semangat awal mendiang Paus Fransiskus, ketika mencanangkan Hari Minggu Sabda Allah, tujuh tahun silam di tahun 2019. Pada tanggal 30 September 2019, pada peringatan Santo Hironimus, Paus Fransiskus menerbitkan Surat Apostolik, Aperuit Illis, berupa Motu Proprio (atau atas inisiatifnya sendiri), menetapkan Hari Minggu Sabda Allah. Dalam artikel 3 surat tersebut, Paus Fransiskus menulis, “bahwa Hari Minggu Ketiga Masa Biasa diperuntukan bagi perayaan, pendalaman, dan penyebaran Sabda Allah”. Lebih lanjut Paus Fransiskus menyatakan bahwa perayaan Hari Minggu Sabda Allah ini memiliki nilai ekumenis, karena Kitab Suci, bagi mereka yang mendengarkan, menunjukkan jalan yang perlu diikuti untuk mencapai kesatuan yang otentik dan kokoh”.

 

Jika kita menelisik kisah Yesus dalam Kitab Suci, barangkali orang yang paling memahami buah Sabda Allah yang membebaskan adalah seorang yang dianggap kafir, seorang perwira Romawi. Setelah memohon kepada Yesus agar menyembuhkan hambanya yang sakit, dan ketika melihat kesediaan Tuhan, dengan segera ia menyatakan diri tidak layak menerima Yesus di rumahnya dan berkata, “Katakan saja sepatah kata, maka hambaku akan sembuh” (Mat 8:8). Satu Sabda dari Kristus sudah cukup baginya untuk memiliki harapan yang pasti akan kesembuhan. 

 

Konfrater sekalian, para suster, saudara-saudari yang terkasih dalam Sang Sabda.

 

Tahun ini, di masa Paus Leo ke-14, perayaan Minggu Sabda mempunyai bentuk yang lebih baik.  Dicastery for evangelization, atau Dewan Kepausan untuk Evangelisasi menerbitkan buku panduan liturgis dan pastoral untuk perayaaan Minggu Sabda Allah yang ketujuh dengan tema “Hendaknya perkataan Kristus diam di antara kamu” (Kol 3:16). Tema ini diambil dari kata-kata peneguhan Santo Paulus kepada umat di Kolese. Yang diungkapkan rasul Paulus bukan hanya sekedar nasihat moral, melainkan petunjuk pada satu cara hidup baru. Paulus tidak meminta agar Sabda hanya didengar atau dipelajari, tetapi ia menghendaki agar Sabda itu tinggal, yakni berdiam secara tetap, membentuk cara berpikir kita, menuntun keinginan-keinginan kita, agar kesakisian kita menjadi lebih nyata dan dipercaya.

 

Perayaan Minggu Sabda Allah hari ini tentu menjadi lebih bermakna karena bertepan dengan perayaan Pertobatan Santo Paulus. Sabda yang disampaikan Kristus kepada Paulus di jalan menuju Damsyik telah menghujam hatinya sedemikian dalam, hingga menjadikannya pewarta Injil dan rasul yang handal seperti yang kita kenal. Tugas kita, tentu, memastikan agar Sabda yang sama itu, berdiam di antara kita dan menjangkau ke semua orang dalam karya pewartaan kita zaman ini.

 

Sekarang saya ajak kita untuk melihat bacaan-bacaan suci hari, lebih khusus bacaan injil dari Matius, yang berkisah tentang bagaimana misi pewartaan Yesus dimulai. Ada empat hal yang tertuang dalam teks injil hari ini. Pertama, peristiwa penggenapan Firman yang disampakan para nabi terdahulu, seperti juga yang kita dengar dalam bacaan pertama hari ini, “Tanah Zebulon dan tanah Naftali, jalan ke laut, daerah seberang Sungai Yordan, Galilea, wilayah bangsa-bangsa lain; bangsa yang diam dalam kegelapan telah melihat Terang yang besar, dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut telah terbit Terang.” Terang itu, tidak lain adalah Yesus sendiri, Sang Sabda yang menjelma dan mengambil bagian dalam rupa manusia. Terang yang membuka mata iman. Kedua, ada seruan pertobatan dari Yesus, Sang Sabda itu sendiri, “Bertobatlah kerajaan Surga sudah dekat”. Ketiga, ajakan untuk mengikuti Sang Sabda, mengikuti Yesus Sang Guru, “Mari ikutlah aku, dan kamu akan kujadikan penjala manusia”, dan keempat, pada akhirnya Sabda itu diwartakan di rumah-rumah ibadat dan kuasa Sang Sabda, segala penyakit dan kelemahan di antara para bangsa dilenyapkan. Alur bacaan injil membentuk sebuah pola; dari iluminasi terang, menuju rekonsiliasi dalam ajakan pertobatan, kemudian diikuti dengan vokasi, sebuah panggilan untuk menjadi murid Sang Sabda, dan pada akhirnya bermuara pada misi, pewartaan Sabda Allah itu sendiri.

 

Konfrater sekalian, para suster, saudara/I yang terkasih dalam Sang Sabda.

 

Apa yang bisa kita petik dari perayaan hari Minggu Sabda Allah ini? Kita adalah biarawan misionaris pewarta Sabda SVD, atau juga pencinta dan pewarta Sang Sabda.  Pembukaan Konstitusi SVD memberikan jawaban, “Di dalam nama serikat kita, terungkaplah pengabdian yang khusus kepada Sabda Allah dan perutusannya. Hidup-Nya adalah hidup kita, perutusan-Nya adalah perutusan kita. Dan moto Serikat Sabda Allah adalah, our name is our mission (Nama kita adalah misi kita). Kita semua dipanggil untuk menjadi misionaris pewarta Sabda.

 

Jika kembali ke awal abad silam, pada tanggal 30 Januari 1901, Paus Leo ke-13 secara resmi mensahkan nama serikat kita menjadi SERIKAT SABDA ALLAH. Malam harinya ada ibadat ucapakan syukhur (Te Deum) atas pemberian nama itu, dan sejak awal, Santo Arnoldus Janssen percaya bahwa dengan nama itu, pendiri Serikat yang sesungguhnya adalah Sang Sabda, Tuhan sendiri. Sebelumnya, dalam rumusan Kapitel Jenderal SVD yang pertama tahun 1885, Pater Arnoldus menjelaskan Sabda Allah mesti dipahami dalam kerangka hubungan yang istimewah dengan setiap pribadi Ilahi; Sabda Bapa, Sabda Putra, dan Sabda Roh Kudus. Sabda Bapa tidak lain adalah Sang Putra, pribadi kedua Tritunggal Mahakudus. Sabda Putra adalah injil, cinta kasih Bapa yang diwartakan. Sabda Roh Kudus, adalah Dia yang mengilhami dan berbicara melalu Kitab Suci serta membentuk Gereja, tubuh mistik Kristus. Roh Kudus itu pula lah yang memberi kekuatan untuk pewartaan kerajaan Allah di seluruh penjuru dunia, bahwa di dunia yang tidak mengenal Kristus sekalipun.  

 

Dua hal yang mungkin bisa kita lakukan. Pertama, berakar pada Sang Sabda (rooted in the Word of God) dan kedua, setia menjadi pewarta Sabda. Berakar dalam Sang Sabda berarti kita membiarkan Kristus, Sang Sabda, tinggal di dalam kita, atau membiarkan hidup kata-kata-Nya bukan hanya diresapi, tetapi juga, secara lebih radikal hidup kita mesti dirasuki oleh Sang Sabda itu sendiri. Sementara, setia menjadi pewarta Sabda berarti kita semua dipanggil untuk meneruskan karya pewartaan yang diwariskan oleh Yesus Sang Guru dan para rasul kepada kita sebagai pengikut Kristus. Sebagai seorang biarawan misionaris SVD, kita semua adalah pewarta Sabda zaman ini. Salah satu nama resmi serikat kita (SVD) dalam bahasa Inggris adalah the Divine Word Missionaries, atau Misionaris Pewarta Sabda. Sabda yang kita dengar, baca, dan hidupi mesti juga diwartakan kepada semua orang.  

 

Saya menutup renungan ini dengan sebuah puisi yang saya kutip dari sebuat surat untuk misionaris di tanah misi yang ditulis oleh mahasiswi PKK (Pendidikan Keagamaan Katolik) IFTK Ledalero tingkat 1. Puisinya berjudul, “Jalan Menuju Sang Sabda”.

 

Panggilan menuju Sang Sabda,

Bukan semata keinginan hati yang tersembunyi,

Bukan sekedar impian yang terbang tinggi,

Namun suara hati yang merasuk sukma,

Memanggil jiwa untuk melayani, penuh setia.

 

Jalan ini berliku, sering kali tak pasti,

Terjal mendaki, terkadang badai menghampiri,

Namun di setiap langkah, ada tangan terkasih,

Menopang, menuntun, menjauhkan diri dari letih

Menempa jiwa menjadi bejana penuh cahaya,

Agar tak tersesat, tak kehilangan makna.

 

Tuhan memberkati.

Published in Renungan

“Firman yang Hidup dan Misi yang Dipercayakan”
(Yes. 52:7–10; Ef. 3:8–12.14–19; Yoh. 1:1–5.9–14.16–18)

Saudara-saudari dan para konfrater terkasih,
hari ini adalah Hari Raya Santo Arnoldus Janssen, pendiri Serikat Sabda Allah. Kita merayakannya sebagai Hari Raya SVD, Hari Raya pertama sesudah kemeriahan Yubileum 150 tahun berdinya SVD. Gereja mengajak kita tidak hanya untuk mengenang sejarah, tetapi juga untuk membaca kembali roh panggilan dan keteguhan iman yang terwujud dalam langkah-angkah kecil dan konkrit dari Sang Pendiri yang melahirkan SVD dan dua serikat misi lainnya: SSpS dan SSpSAP.

  1. Sesungguhnya Kabar Baik Datang Melalui Kaki yang Sederhana

(Yesaya 52:7–10)

Dalam Kitab Nabi Yesaya Bab 52 yang baru saja kita dengan, Sang Nabi berseru: “Betapa indahnya kaki orang yang membawa kabar baik.”
Kabar baik itu bukan pertama-tama datang lewat kekuatan politik atau kemegahan institusi, tetapi lewat langkah-langkah sederhana para pewarta yang percaya bahwa Tuhan sendirilah yang hadir dan bekerja dalam keseharian hidup mereka.

Santo Arnoldus Janssen adalah contoh nyata. Ia bukan tokoh besar dalam struktur Gereja zamannya. Ia adalah imam sederhana, sering diragukan, bahkan ditolak. Namun ia percaya: jika karya ini berasal dari Allah, maka Allah sendiri yang akan menumbuhkannya. Iman teguh pada penyelenggaraan ilahi membuatnya berani melangkah, walaupun terkadang tampak kecil dan sederhana, meskipun masa depan tidak pasti.

  1. Bukankah Misi Lahir dari Rahmat, dan bukan dari Ambisi Pribadi atau Kelompok?

(Efesus 3:8–12.14–19)

Dalam surat kepada jemaat di Efesus, (dalam bacaan kedua hari ini) Rasul Paulus berkata dengan jujur: “Kepadaku, yang paling hina di antara semua orang kudus, dianugerahkan rahmat ini.”
Kesadaran akan kerendahan hati inilah yang juga hidup dalam diri Arnoldus Janssen. Ia tahu: misi bukan miliknya, melainkan milik Allah. Ia hanya alat.

Dari iman yang dalam itu lahirlah keberanian besar: mendirikan tiga serikat misi, masing-masing dengan karisma khas, tetapi satu roh yaitu menghadirkan Sabda Allah bagi dunia. Bukan karena perhitungan manusiawi, melainkan karena keyakinan bahwa kehendak Allah akan terwujud bila manusia taat dan setia di bawah bimbingan Roh Allah mencontohi Yesus Tuhan Penyelamat.

  1. Apakah Firman yang Menjadi Manusia Menjadi Dasar Segala Misi Kita?

(Yohanes 1:1–5.9–14.16–18)

Prolog Injil Yohanes menegaskan: “Firman itu telah menjadi manusia dan tinggal di antara kita.”
Inilah jantung spiritualitas SVD. Firman tidak tinggal di langit, tetapi masuk ke dalam sejarah, ke dalam budaya, ke dalam bahasa, dan dalam penderitaan manusia.

Arnoldus Janssen memahami hal ini dengan sangat konkret. Ia mengutus misionaris bukan untuk membawa diri mereka sendiri, tetapi untuk mendengarkan, untuk belajar, untuk hadir dan tinggal bersama umat. Misi adalah inkarnasi yaitu hadir dan tabah, sabar dan  tekun, setia dan rendah hati.

  1. Manakah Tantangan dan Peluang Mengikuti Teladannya?

Hari ini, tantangan kita berbeda, tetapi tidak lebih ringan seperti:

  • tantangan sekularisasi dan indiferentisme iman,
  • tantangan dunia digital yang cepat tetapi dangkal, yang instan anti proses,
  • tantangan konflik identitas, konflik budaya, dan konflik agama,
  • kelelahan rohani dan rutinitas karya.

Namun justru di situlah peluangnya:

  • di situlah peluang menjadi pewarta Firman yang relevan dan membumi,
  • di situlah peluang membangun dialog lintas budaya dan agama dengan kerendahan hati,
  • di situlah peluang menghadirkan komunitas yang bersaudara di tengah dunia yang terfragmentasi,
  • di situlah peluang memperbarui misi dari dalam: lewat doa pribadi dan bersama yang tekun, lewat adorasi yang khusuk, dan pendalaman spiritualitas Sang Sabda.
  1. Apa Pesan Relevan bagi SVD Hari Ini?

Hari Raya ini menantang kita, para anggota SVD dan seluruh keluarga besar misi, untuk bertanya dengan jujur:

  • Apakah kita masih percaya sungguh pada penyelenggaraan ilahi, atau lebih mengandalkan strategi dan struktur?
  • Apakah kita masih rendah hati sebagai pelayan Firman, atau tergoda menjadi pemilik karya?
  • Apakah Sabda Allah sungguh kita hidupi, atau hanya kita wartakan?

Santo Arnoldus Janssen mengingatkan:
kesetiaan kecil (dalam langkah-langkah kecil dan sederhana) yang dijalani dengan iman besar dapat melahirkan karya besar dalam rencana Allah.

Penutup

Saudara-saudari terkasih,
hari ini kita bersyukur atas kesaksian hidup dan karya misi Santo Arnoldus Janssen—seorang yang sederhana, rendah hati, dan sepenuhnya percaya bahwa kehendak Allah pasti terlaksana. Kiranya teladannya meneguhkan kita untuk terus menjadi pembawa Sabda yang hidup, setia pada misi, dan berani melangkah, sekalipun langkahnya kecil dan sederhana, walaupun jalannya ke masa depan penuh tantangan.

Semoga Roh Kudus yang sama yang menuntun Santo Arnoldus Janssen, juga membimbing SVD hari ini dan di masa depan.

Amin.

Published in Renungan
Friday, 11 April 2025 11:14

KESEIMBANGAN ANTARA KEDEKATAN DAN JARAK

Keakraban antar pribadi-pribadi menuntut Kedekatan dan jarak.
Hanya seperti orang berdansa. Kadang-kadang kita amat dekat, saling berpegangan; pada saatnya kita ambil jarak satu dari yang lain dan membiarkan ruangan di antara kita itu menjadi tempat di mana kita dapat bergerak dengan bebas.
Agar dapat menjaga keseimbangan antara kedekatan dan jarak, dperlukan usaha keras dari kita, khususnya karena Kebutuhan akan kebersamaan dapat berbeda dari waktu ke waktu.
Mungkin yang satu menghendaki kedekatan, sementara yang lain menghendaki Jarak. Yang satu ingin dituntut, sementara yang lain sedang berusaha untuk lepas.
Keseimbangan yang serasi amat jarang terjadi, tetapi usaha yg terbuka dan tulus untuk mencapai keseimbangan itu dapat membuahkan tarian yang indah, yang pantas untuk ditonton.

Tuhan menyertai kita semua... 

Harta utama adalah
Kesehatan. Kebahagiaan itu ketika kita mau menerima kenyataan dan selalu bersyukur. ❤️

 
Published in Inspirasi
Tuesday, 20 September 2022 15:22

HIKMAH KASUS SAMBO

Pelajaran berharga Kasus Sambo dalam terang Amos 3:27-34; Mazmur 15 dan Injil Lukas 8:16-18.

Drama Kasus Sambo belum berakhir tetapi paling kurang mengajak kita, baik secara pribadi maupun sebagai pasutri dalam hidup berkeluarga, serta hidup berkomunitas untuk merenungkan hikmahnya guna menata hidup kita seturut jalan Tuhan.

Coba simak kasus Sambo dari perspektif:

@ kata-kata Amsal 3:

Janganlah merencanakan kejahatan terhadap sesamamu, sedangkan tanpa curiga ia tinggal bersama-sama dengan engkau. Janganlah bertengkar tidak semena-mena dengan seseorang, jikalau ia tidak berbuat jahat kepadamu. karena orang yang sesat adalah kekejian bagi TUHAN, tetapi dengan orang jujur Ia bergaul erat. Kutuk TUHAN ada di dalam rumah orang fasik, tetapi tempat kediaman orang benar diberkatiNya. Orang yang bijak akan mewarisi kehormatan, tetapi orang yang bebal akan menerima cemooh. (Ams 3:29-30,32-33,35)

@ Atau dari ajaran Yesus Tuhan:
Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan diketahui dan diumumkan. Karena itu, perhatikanlah cara kamu mendengar. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, juga apa yang ia anggap ada padanya." (Luk 8:17-18)

Atau juga dari Mazmur 15 :

Siapa yang boleh menumpang dalam kemahMu? Siapa yang boleh diam di gunungMu yang kudus? Yaitu dia yang berlaku tidak bercela, yang melakukan apa yang adil dan yang mengatakan kebenaran dengan segenap hatinya, yang tidak menyebarkan fitnah dengan lidahnya, yang tidak berbuat jahat terhadap temannya dan yang tidak menimpakan cela kepada tetangganya; yang memandang hina orang yang tersingkir, tetapi memuliakan orang yang takut akan TUHAN; yang berpegang pada sumpah, walaupun rugi; yang tidak meminjamkan uangnya dengan makan riba dan tidak menerima suap melawan orang yang tak bersalah. Siapa yang berlaku demikian, tidak akan goyah selama-lamanya. (Mzm 15:1-5)

Apa pesannya bagiku & keluarga/komunitasmu?
Selamat merenung. Gbus?, JM 19092022

 
Published in Renungan
Wednesday, 20 July 2022 11:20

SAYA BERADA DI JENIS TANAH YANG MANA

» tanah di pinggir jalan (mudah tergerak kalau ramai2 tapi mudah dilenyapkan oleh keinginan2 duniawi)
» tanah berbatu2 (mudah berkata YA tapi kerasnya batu2 sifat dlm diri melenyapkan tumbuhnya benih iman
» tanah bersemak duri yg berseberangan dg jalan Tuhan shg mematikan tumbuhnya benih iman dlm diriku
» tanah yg baik shg benih iman tumbuh subur dlm hidupku.
Secara manusiawi, Ke-4 jenis tanah ini ada dlm diri kita, maka sadari & arahkan shg benih iman bisa bertumbuh. Tks utk perjuanganmu menumbuhkan benih iman dlm hidup &keluargamu. Teruslah bertumbuh, Tuhan pasti memampukan dg kasih &kuasaNya. Salam & berkat  JM 20072022

Published in Renungan
Tuesday, 12 July 2022 14:03

SIAPA YANG TIDAK BAIK: TUHAN ATAU MANUSIA?

Tuhan kita senantiasa menganugerahkan Rahmat & berkat berlimpahNya kpd kita, namun kadang atau seringkali kita lah yg menutup hati pada tawaran Rahmat Tuhan itu. Yg salah siapa; Tuhan atau kita? Musim hujan, musim menanam. Tidak menanam  tentu tidak menuai pula padahal curah hujan bagus. Hujan Rahmat Tuhan selalu berlimpah pada kita, tidak beriman, tentu tidak bisa melihat karya agung Tuhan dlm hidup kita padahal hujan karya Rahmat Tuhan terjadi setiap hari. Salam imam, harap & kasih. JM 12072022

 
Published in Renungan
Wednesday, 05 January 2022 14:44

Renungan Harian, 5 Januari 2022

Saudara/i yang terkasih dalam Kristus

Rasa cemas, takut, gelisah dan khawatir dalam hidup adalah perasaan hakiki manusiawi kita yang tidak bisa dipungkiri. Setiap orang dan kita sekalian sudah mengalami perasaan-perasaan demikian. Bahkan, kadang ada yang hampir putus asa, menyerah dan tak berdaya dalam hidup ini. Akhirnya terkadang kita menyalahkan Tuhan, " Mengapa harus terjadi situasi seperti ini"? "Mengapa harus terjadi padaku musibah atau penderitaan ini"?
Inilah pertanyaan-pertanyaan yang barangkali muncul atau ada dalam benak kita, ketika kita berada dalam situasi ketidakberdayaan hidup.

Lantas, apakah kita tetap dan mau bertahan dalam situasi perasaan-perasaan negatif demikian. Apakah kita akan mengalami kebahagiaan bila terus mempersalahkan keadaaan sampai mempersalahkan Tuhan? Seolah-olah Tuhan penyebab semuanya ini.

Saudara/i yang terkasih dalam Kristus.

Sebuah syair indah dan kata bijak pernah sya mendengarnya dan membacanya. Bunyinya demikian. " Ketika hujan tiba, janganlah berdoa untuk meminta hujan reda atau pun berhenti karena hujan akan tetap ada, tetapi berdoalah agar Tuhan menguatkan payung hidupmu dan kamu dapat dan kuat menghadapi dan mengalami hidup ini"

"Sebuah musik yang harmonis tercipta dari nada mayor dan minor dan ada tambahan musik jenis yang lainnya".

Saudara/i yang terkasih dalam Kristus

Dengan kasih, iman dan harap kepada Tuhan, hidup ini, hidup kita akan selalu mengalami syukur dan berkat dalam kasih Tuhan. Mungkin inilah makna terdalam seruan Yesus kepada Murid-Murid-Nya
"Tenanglah, Aku ini jangan takut"
Seruan Yesus dalam bacaan Injil yang kita renungan hari ini sangat memberikan inspirasi hidup sekaligus meneguhkan iman kita sebagai orang kristen. Seruan ini memberikan makna terdalam bagi kita bahwa "hanya dalam kasih Tuhan, kita mengalami kepenuhan hidup"
Tuhan tidak terlalu cepat, Tuhan juga tidak terlambat.
Tetapi Kasih-Nya dan Berkat-Nya selalu ada dan hadir untuk kita setiap saat.

Semoga.

Published in Renungan
Thursday, 08 October 2020 10:05

Renungan harian, Kamis, 8 Oktober 2020

Luk 11:5-13; Gal 3:1-5

Mintalah maka kalian akan diberi

Mengapa ada orang katolik tergoda untuk pergi ke dukun, peramal gunung kawi dkk? Sayapun pernah mengalami hal yang sama.

Meskipun telah menjadi pengikut Kristus ada kesulitan bukannya minta bantuan Yesus namun pergi ke orang pintar.
Hal ini dialami juga oleh pengikut Kristus perdana, sehingga rasul Paulus marah besar dan menyebut mereka sebagai orang bodoh.
Memang setelah menyadari kerja Roh yang sudah kita terima, layaklah kita sebagai pengikut Kristus disebut orang bodoh, tolol, dungu, bebal, ngak tau diuntung dkk jika masih melakukan keinginan daging.

Keinginan daging yang paling sulit untuk kita tinggalkan yaitu ego yang melekat di dalam diri kita masing masing, sehingga Roh Kudus sulit bekerja secara penuh di dalam diri kita sehingga kita masih mudah marah, tersinggung, berpikiran negatif dkknya.

Tuhan telah menganugrahi kita dengan Roh belimpah limpah dan Ia telah melakukan mujizat setiap hari kepada kita, namun kita tidak menyadarinya.
Jika mengalami masalah apapun Ia telah berjanji: mintalah, maka kamu akan diberi; carilah, maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.

Ia menganugrahi kita dengan Roh bukan karena kita melakukan kewajiban agama kita dengan baik, namun terutama karena kita percaya kepada pewartaan Injil.

Apakah kita berani menyerahkan segala perkara kepada Tuhan?

Selamat beraktifitas Tuhan memberkati

Oleh : Benny Sudrajat (Paroki Yakobus Kelapa Gading Jakarta)

Published in Renungan
Sunday, 28 June 2020 16:38

RENUNGAN HARI MINGGU BIASA XIII

Setiap kali saat berlive-in, kita selalu diterima dengan baik oleh orang-orang dan saat hendak pulang dari tempat live in, kita selalu diberikan ‘tanda mata’ baik itu sarung, selendang dan sebagainya. Pelbagai ‘tanda mata’ tersebut bukan hanya pemberian cenderamata semata, tetapi juga sebagai ‘tanda bukti’ bahwa telah ada suatu pertemuan yang mendalam, di mana ada ikatan keakraban, karena itu sebuah ‘tanda mata’ merupakan pemberian yang layak untuk dikenang.

Konftar yang terkasih dalam Kristus...

Dalam bacaan pertama kita mendengar cerita tentang nabi Elisa yang diterima dengan baik dalam rumah perempuan kaya dari Sunem. Hospitalitas yang ditunjukkan perempuan kaya kepada Nabi Elisa dibalas dengan janji pemberian seorang anak laki-laki kepada pemilik rumah yang menampungnya. Di sini belas kasih Allah menyata dalam perkataan nabi sendiri dan sekaligus menjadi  ‘tanda bukti’ dan ‘tanda mata’  yang menjamin bawasannya “tahun depan, pada waktu seperti ini juga, engkau ini akan mengendong seorang anak laki-laki”. Sebuah tindakan kasih dibalas dengan tindakan kasih.

Konftar yang terkasih dalam Kristus...

Kasih Allah yang tak berkesudahan dialami pemazmur sebagai ‘tanda mata’ dan ‘tanda bukti’ yang patut disyukuri, karena itu pemazmur bermadah “Aku hendak menyanyikan kasih setia Tuhan selama-lamanya, karena kasih Tuhan tegak seperti langit.

Yesus dalam injil Matius memberikan pedoman-pedoman kepada murid-murid-Nya untuk mempratikkan tindakan kasih. Seorang murid diajak untuk mengasihi tanpa batas, bersedia memangul salib, tidak takut kehilangan nyawa, dan memiliki hospitalitas sebagai praksis dari tindakan kasih. Di sini, kasih bukan sebuah kata-kata kosong, melainkan sebuah tindakan praksis. 

Konftar yang terkasih dalam Kristus...

 ‘Tanda mata’ yang paling agung diberikan oleh yesus kepada kita adalah hidup baru. St. Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma mengingatkan kita semua bahwa, orang yang dibabtis dalam kematian Kristus, telah dikuburkan dan telah dibangkitkan untuk hidup baru.  Oleh karena itu,  agar  kita memperoleh ‘tanda mata’ yaitu: hidup baru dalam Kristus,  bacaan-bacaan suci hari ini mengajak kita untuk mempratikkan tindakan kasih:

Pertama, sebuah tindakan kasih tidak terbatas hanya kepada orang-orang yang sedarah ataupun sedaerah dengan kita, tetapi hendaknya juga kepada semua sesama manusia dan sesama ciptaan yang lain.

Kedua, sebuah tindakan kasih harus sempurna seperti kasih Yesus kepada manusia, tanpa pertimbangan untung rugi, mengasihi tanpa apa dan mengapa? sekalipun harus kehilangan.... bahkan nyawa.

Ketiga, sebuah tindakan kasih, nyata dalam sikap hospitalitas kita, dalam menerima sesama lain; terutama orang-orang kecil dan terpinggirkan. Semoga kita yang telah dibaptis dalam kematian Kristus serentak menjadi anggota Gereja dan keluarga besar Allah yang lanyak memperoleh ‘tanda mata’ yaitu hidup baru dalam Kristus.

 

=== AMIN ===

 
Published in Renungan
Sunday, 21 June 2020 19:58

HMB XII, Minggu, 21 Juni 2020

Gus Dur, presiden keempat RI, pernah membuat sebuah anekdot tentang polisi jujur. Katanya: “Di negeri ini, cuma ada tiga polisi yang jujur: patung polisi, polisi tidur, dan polisi Hoegeng”. (Apresiasi Gus Dur kepada Hoegeng yg jabatannya diturunkan karena selalu berhasil menegakkan kebenaran dlm menangani kasus2 yg ada).

Siapa Hoegeng? Hoegeng Iman Santoso, seorang Kapolri pada masa orde baru. Ia menjabat sebagai Kapolri sejak 9 Mei 1968 – 2 Oktober 1971. Hoegeng menjadi sosok panutan polisi yang jujur, karena ia sama sekali tak mempan dengan berbagai macam sogokan apa pun. “Selesaikanlah tugas dengan kejujuran dan kebenaran, karena kita masih bisa makan nasi dengan garam”.

Salah satu peristiwa yang membawa dampak malang bagi kariernya ialah ketika ia menangani kasus pemerkosaan yang dialami oleh Sumarijem, atau SUM, penjual telur ayam berusia 18 tahun. SUM membuat sebuah laporan kepada polisi, bahwa ia telah diperkosa beramai-ramai oleh beberapa pria di Klaten, pada 21 September 1970. Namun, laporannya membawa nasib malang untuknya. Bukannya mendapat pembelaan, ia justru dijatuhi hukuman penjara di Pengadilan Negeri Yogyakarta, atas tuduhan membuat laporan palsu.

Satu hari setelah Sum keluar dari penjara, Hoegeng berusaha mencari tahu fakta soal kasus ini. Hoegeng menegaskan: “Perlu diketahui bahwa kita tidak gentar menghadapi orang-orang gede siapa pun. Kita hanya takut kepada Tuhan yang Maha Esa. Jadi, kalau salah tetap kita tindak”. Dari hasil pencariannya, ternyata ditemukan keterlibatan sejumlah pejabat, yakni anak seorang pejabat dan seorang anak pahlawan revolusi diduga menjadi pelakunya. Terbongkarnya kasus ini menjadi penanda berakhirnya jabatannya sebagai Kapolri; ia diturunkan dari jabatannya.

***

Saudara/i terkasih,

Apa yg dialami polisi Hoegeng tentu dialami juga oleh semua orang yg berusaha berbuat baik dengan melawan kebiasaan buruk yang ada: korupsi, kolusi, nepotisme. Atau mereka yg berusaha berbuat baik dan benar tapi berhadapan dgn mereka yg punya kuasa dan jabatan.

Kristus telah mengalami hal seperti ini dalam karyaNya. Demikianlah IA menyadarkan para pengikutNya bahwa kita akan dibenci oleh semua orang yg tidak menyukai kebenaran.

Saudara/i terkasih,

Kita semua dipanggil dan dipilih Allah untuk mengambil bagian dalam karya keselamatan-Nya. Akan tetapi, bayang-bayang adanya rasa tidak suka atau kebencian dari para musuh Kristus, tentu membuat kita merasa cemas. Oleh karena itu, Kekuatan apakah yg harus kita miliki apabila kita harus berdiri tegar pada opsi menegakkan kebenaran dan mewartakan keselamatan yg diajarkan Allah.

  • Bagi kita yg dipanggil secara khusus, Kristus telah menasihati, menguatkan, dan membekali kita dengan RohNya. Yesus, dalam Injil Matius mengatakan: “Janganlah takut kepada mereka yg memusuhi kamu”. Allah tentu memperhitungkan semua jerih dan usaha kita dalam mewartakan Injil-Nya.
  • Kekuatan kita hanya pada Allah yg kita imani, yang memanggil dan mengutus kita. Untuk hal ini, kita bisa belajar dari Nabi Yeremia (bacaan I): meskipun kegentaran datang dari segala jurusan, tetapi Tuhan menyertai aku seperti pahlawan yg gagah. Kita juga bisa belajar dari iman pemazmur (mazmur tanggapan bait 1): Tuhan, karena Engkaulah, aku menanggung cela – ia mengeluh tapi juga menyerahkannya kpd Tuhan. Atau, kita bisa gunakan prinsip Hoegeng: “Selesaikanlah tugas dengan kejujuran dan kebenaran, karena kita masih bisa makan nasi dengan garam” – “Kita hanya takut kepada Tuhan yang Maha Esa”.
  • Kita diajak untuk tetap teguh dan kuat dalam iman kpd Tuhan, dlm setiap tugas dan pewartaan kita. Burung pipit saja Tuhan selamatkan, apalagi kita yg ditugasi Allah mewartakan Kabar Gembira dan keselamatan bagi umat-Nya. Saya yakin bahwa Tuhan akan menuntun kita dgn cara-Nya sendiri, asalkan kita tidak bosan berharap dan memohon bimbingan-Nya.

Semoga Roh Tuhan selalu lebih kuat menggerakkan dan memberanikan kita untuk berbuat semakin lebih baik dari hari ke hari.

Oleh P Avent Serundi, SVD (Misionaris Sanda Allah yang akan berkarya di Brazil Utara)

 
Published in Renungan
Page 1 of 7

Kegiatan Terbaru

...sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa (Yohan...

25 October 2023
...sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa (Yohanes 15:5)

Bagaimana menyelaraskan nilai-nilai iman sejati dengan kecanggihan art...

PERAN SABDA DALAM GEREJA MISIONER

19 October 2022
PERAN SABDA DALAM GEREJA MISIONER

Pada hari Sabtu, 15 Oktober 2022 yang lalu, Komunitas Verbum Domini (K...

BILBE ZOOM IV PUSPITA SUMUR YAKUB BERSAMA KARDINAL SUHARYO

18 October 2022
BILBE ZOOM IV PUSPITA SUMUR YAKUB BERSAMA KARDINAL SUHARYO

Bible Zoom-Youtube Live-Streaming diadakan lagi oleh Tim Pengurus Pusa...

BILBE ZOOM III PUSPITA SUMUR YAKUB BERSAMA MGR. DR. SILVESTE...

16 October 2022
BILBE ZOOM III PUSPITA SUMUR YAKUB BERSAMA MGR. DR. SILVESTER SAN

Tim Pengurus Pusat Spiritualitas (Puspita) Sumur Yakub SVD-SSpS Indone...

BILBE ZOOM II PUSPITA SUMUR YAKUB BERSAMA P. LUKAS JUA, SVD

14 October 2022
BILBE ZOOM II PUSPITA SUMUR YAKUB BERSAMA P. LUKAS JUA, SVD

Tim Pengurus Pusat Spiritualitas (Puspita) Sumur Yakub SVD-SSpS Indone...

Tentang Kami

Nama yang dipilih untuk sentrum ini adalah “Pusat Spiritualitas Sumur Yakub” yang mempunyai misi khusus yaitu untuk melayani, bukan hanya anggota tarekat-tarekat yang didirikan Santu Arnoldus Janssen saja tetapi untuk semua... selebihnya

Berita Terbaru

©2026 Sumur Yakub - Pusat Spiritualitas. All Rights Reserved.

Search