“Firman yang Hidup dan Misi yang Dipercayakan”
(Yes. 52:7–10; Ef. 3:8–12.14–19; Yoh. 1:1–5.9–14.16–18)
Saudara-saudari dan para konfrater terkasih,
hari ini adalah Hari Raya Santo Arnoldus Janssen, pendiri Serikat Sabda Allah. Kita merayakannya sebagai Hari Raya SVD, Hari Raya pertama sesudah kemeriahan Yubileum 150 tahun berdinya SVD. Gereja mengajak kita tidak hanya untuk mengenang sejarah, tetapi juga untuk membaca kembali roh panggilan dan keteguhan iman yang terwujud dalam langkah-angkah kecil dan konkrit dari Sang Pendiri yang melahirkan SVD dan dua serikat misi lainnya: SSpS dan SSpSAP.
- Sesungguhnya Kabar Baik Datang Melalui Kaki yang Sederhana
(Yesaya 52:7–10)
Dalam Kitab Nabi Yesaya Bab 52 yang baru saja kita dengan, Sang Nabi berseru: “Betapa indahnya kaki orang yang membawa kabar baik.”
Kabar baik itu bukan pertama-tama datang lewat kekuatan politik atau kemegahan institusi, tetapi lewat langkah-langkah sederhana para pewarta yang percaya bahwa Tuhan sendirilah yang hadir dan bekerja dalam keseharian hidup mereka.
Santo Arnoldus Janssen adalah contoh nyata. Ia bukan tokoh besar dalam struktur Gereja zamannya. Ia adalah imam sederhana, sering diragukan, bahkan ditolak. Namun ia percaya: jika karya ini berasal dari Allah, maka Allah sendiri yang akan menumbuhkannya. Iman teguh pada penyelenggaraan ilahi membuatnya berani melangkah, walaupun terkadang tampak kecil dan sederhana, meskipun masa depan tidak pasti.
- Bukankah Misi Lahir dari Rahmat, dan bukan dari Ambisi Pribadi atau Kelompok?
(Efesus 3:8–12.14–19)
Dalam surat kepada jemaat di Efesus, (dalam bacaan kedua hari ini) Rasul Paulus berkata dengan jujur: “Kepadaku, yang paling hina di antara semua orang kudus, dianugerahkan rahmat ini.”
Kesadaran akan kerendahan hati inilah yang juga hidup dalam diri Arnoldus Janssen. Ia tahu: misi bukan miliknya, melainkan milik Allah. Ia hanya alat.
Dari iman yang dalam itu lahirlah keberanian besar: mendirikan tiga serikat misi, masing-masing dengan karisma khas, tetapi satu roh yaitu menghadirkan Sabda Allah bagi dunia. Bukan karena perhitungan manusiawi, melainkan karena keyakinan bahwa kehendak Allah akan terwujud bila manusia taat dan setia di bawah bimbingan Roh Allah mencontohi Yesus Tuhan Penyelamat.
- Apakah Firman yang Menjadi Manusia Menjadi Dasar Segala Misi Kita?
(Yohanes 1:1–5.9–14.16–18)
Prolog Injil Yohanes menegaskan: “Firman itu telah menjadi manusia dan tinggal di antara kita.”
Inilah jantung spiritualitas SVD. Firman tidak tinggal di langit, tetapi masuk ke dalam sejarah, ke dalam budaya, ke dalam bahasa, dan dalam penderitaan manusia.
Arnoldus Janssen memahami hal ini dengan sangat konkret. Ia mengutus misionaris bukan untuk membawa diri mereka sendiri, tetapi untuk mendengarkan, untuk belajar, untuk hadir dan tinggal bersama umat. Misi adalah inkarnasi yaitu hadir dan tabah, sabar dan tekun, setia dan rendah hati.
- Manakah Tantangan dan Peluang Mengikuti Teladannya?
Hari ini, tantangan kita berbeda, tetapi tidak lebih ringan seperti:
- tantangan sekularisasi dan indiferentisme iman,
- tantangan dunia digital yang cepat tetapi dangkal, yang instan anti proses,
- tantangan konflik identitas, konflik budaya, dan konflik agama,
- kelelahan rohani dan rutinitas karya.
Namun justru di situlah peluangnya:
- di situlah peluang menjadi pewarta Firman yang relevan dan membumi,
- di situlah peluang membangun dialog lintas budaya dan agama dengan kerendahan hati,
- di situlah peluang menghadirkan komunitas yang bersaudara di tengah dunia yang terfragmentasi,
- di situlah peluang memperbarui misi dari dalam: lewat doa pribadi dan bersama yang tekun, lewat adorasi yang khusuk, dan pendalaman spiritualitas Sang Sabda.
- Apa Pesan Relevan bagi SVD Hari Ini?
Hari Raya ini menantang kita, para anggota SVD dan seluruh keluarga besar misi, untuk bertanya dengan jujur:
- Apakah kita masih percaya sungguh pada penyelenggaraan ilahi, atau lebih mengandalkan strategi dan struktur?
- Apakah kita masih rendah hati sebagai pelayan Firman, atau tergoda menjadi pemilik karya?
- Apakah Sabda Allah sungguh kita hidupi, atau hanya kita wartakan?
Santo Arnoldus Janssen mengingatkan:
kesetiaan kecil (dalam langkah-langkah kecil dan sederhana) yang dijalani dengan iman besar dapat melahirkan karya besar dalam rencana Allah.
Penutup
Saudara-saudari terkasih,
hari ini kita bersyukur atas kesaksian hidup dan karya misi Santo Arnoldus Janssen—seorang yang sederhana, rendah hati, dan sepenuhnya percaya bahwa kehendak Allah pasti terlaksana. Kiranya teladannya meneguhkan kita untuk terus menjadi pembawa Sabda yang hidup, setia pada misi, dan berani melangkah, sekalipun langkahnya kecil dan sederhana, walaupun jalannya ke masa depan penuh tantangan.
Semoga Roh Kudus yang sama yang menuntun Santo Arnoldus Janssen, juga membimbing SVD hari ini dan di masa depan.
Amin.
