Konfrater sekalian, para suster, saudara/i yang terkasih dalam Sang Sabda.
Saya mulai renungan ini dengan satu cerita pengalaman sederhana. Empat tahun lalu, saya masih bekerja di salah satu pulau wilayah paling selatan Filipina, di sebuah pulau perbatasan (border crossing) dengan Indonesia yang penduduknya predominantly muslim. Waktu itu hari Lebaran, saya berinisiatif mengujungi seorang sahabat, tokoh Muslim dan imam yang cukup berpengaruh di pulau itu untuk bersilaturahmi. Saya membawa sebuah baju batik khas Indonesia sebagai hadiah. Setiba di rumahnya saya diterima dengan sangat ramah. Dia dan keluarga senang sekali, tetapi yang membuat saya kagum adalah ketika pulang, dia menaruh sebuah bingkisan di tas saya. Ketika tiba di pastoran, saya membuka bingkisan tersebut, ternyata isinya adalah sebuah Alquran, Kitab Suci agama Islam, dalam dua versi, bahasa Arab dan bahasa Inggris. Ada secarik kertas, di halaman depan, dengan tulisan, “Kita semua ada di jalan yang sama, sebagai pembaca dan pewarta Sabda Allah.”
Secuil pengalaman sederhana tidak hanya sekedar, sebuah peringatan (reminder) bagi saya pribadi sebagai seorang biarawan misionaris pewarta Sabda, tetapi Sabda Tuhan sebenarnya bisa menjadi terang di semua situasi, bahkan di tengah situasi yang super jamak sekalipun. Sabda Tuhan mempererat, bukan meretakan, ia mempersatukan bukan melepas-pisahkan.
Dan ini senada dengan semangat awal mendiang Paus Fransiskus, ketika mencanangkan Hari Minggu Sabda Allah, tujuh tahun silam di tahun 2019. Pada tanggal 30 September 2019, pada peringatan Santo Hironimus, Paus Fransiskus menerbitkan Surat Apostolik, Aperuit Illis, berupa Motu Proprio (atau atas inisiatifnya sendiri), menetapkan Hari Minggu Sabda Allah. Dalam artikel 3 surat tersebut, Paus Fransiskus menulis, “bahwa Hari Minggu Ketiga Masa Biasa diperuntukan bagi perayaan, pendalaman, dan penyebaran Sabda Allah”. Lebih lanjut Paus Fransiskus menyatakan bahwa perayaan Hari Minggu Sabda Allah ini memiliki nilai ekumenis, karena Kitab Suci, bagi mereka yang mendengarkan, menunjukkan jalan yang perlu diikuti untuk mencapai kesatuan yang otentik dan kokoh”.
Jika kita menelisik kisah Yesus dalam Kitab Suci, barangkali orang yang paling memahami buah Sabda Allah yang membebaskan adalah seorang yang dianggap kafir, seorang perwira Romawi. Setelah memohon kepada Yesus agar menyembuhkan hambanya yang sakit, dan ketika melihat kesediaan Tuhan, dengan segera ia menyatakan diri tidak layak menerima Yesus di rumahnya dan berkata, “Katakan saja sepatah kata, maka hambaku akan sembuh” (Mat 8:8). Satu Sabda dari Kristus sudah cukup baginya untuk memiliki harapan yang pasti akan kesembuhan.
Konfrater sekalian, para suster, saudara-saudari yang terkasih dalam Sang Sabda.
Tahun ini, di masa Paus Leo ke-14, perayaan Minggu Sabda mempunyai bentuk yang lebih baik. Dicastery for evangelization, atau Dewan Kepausan untuk Evangelisasi menerbitkan buku panduan liturgis dan pastoral untuk perayaaan Minggu Sabda Allah yang ketujuh dengan tema “Hendaknya perkataan Kristus diam di antara kamu” (Kol 3:16). Tema ini diambil dari kata-kata peneguhan Santo Paulus kepada umat di Kolese. Yang diungkapkan rasul Paulus bukan hanya sekedar nasihat moral, melainkan petunjuk pada satu cara hidup baru. Paulus tidak meminta agar Sabda hanya didengar atau dipelajari, tetapi ia menghendaki agar Sabda itu tinggal, yakni berdiam secara tetap, membentuk cara berpikir kita, menuntun keinginan-keinginan kita, agar kesakisian kita menjadi lebih nyata dan dipercaya.
Perayaan Minggu Sabda Allah hari ini tentu menjadi lebih bermakna karena bertepan dengan perayaan Pertobatan Santo Paulus. Sabda yang disampaikan Kristus kepada Paulus di jalan menuju Damsyik telah menghujam hatinya sedemikian dalam, hingga menjadikannya pewarta Injil dan rasul yang handal seperti yang kita kenal. Tugas kita, tentu, memastikan agar Sabda yang sama itu, berdiam di antara kita dan menjangkau ke semua orang dalam karya pewartaan kita zaman ini.
Sekarang saya ajak kita untuk melihat bacaan-bacaan suci hari, lebih khusus bacaan injil dari Matius, yang berkisah tentang bagaimana misi pewartaan Yesus dimulai. Ada empat hal yang tertuang dalam teks injil hari ini. Pertama, peristiwa penggenapan Firman yang disampakan para nabi terdahulu, seperti juga yang kita dengar dalam bacaan pertama hari ini, “Tanah Zebulon dan tanah Naftali, jalan ke laut, daerah seberang Sungai Yordan, Galilea, wilayah bangsa-bangsa lain; bangsa yang diam dalam kegelapan telah melihat Terang yang besar, dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut telah terbit Terang.” Terang itu, tidak lain adalah Yesus sendiri, Sang Sabda yang menjelma dan mengambil bagian dalam rupa manusia. Terang yang membuka mata iman. Kedua, ada seruan pertobatan dari Yesus, Sang Sabda itu sendiri, “Bertobatlah kerajaan Surga sudah dekat”. Ketiga, ajakan untuk mengikuti Sang Sabda, mengikuti Yesus Sang Guru, “Mari ikutlah aku, dan kamu akan kujadikan penjala manusia”, dan keempat, pada akhirnya Sabda itu diwartakan di rumah-rumah ibadat dan kuasa Sang Sabda, segala penyakit dan kelemahan di antara para bangsa dilenyapkan. Alur bacaan injil membentuk sebuah pola; dari iluminasi terang, menuju rekonsiliasi dalam ajakan pertobatan, kemudian diikuti dengan vokasi, sebuah panggilan untuk menjadi murid Sang Sabda, dan pada akhirnya bermuara pada misi, pewartaan Sabda Allah itu sendiri.
Konfrater sekalian, para suster, saudara/I yang terkasih dalam Sang Sabda.
Apa yang bisa kita petik dari perayaan hari Minggu Sabda Allah ini? Kita adalah biarawan misionaris pewarta Sabda SVD, atau juga pencinta dan pewarta Sang Sabda. Pembukaan Konstitusi SVD memberikan jawaban, “Di dalam nama serikat kita, terungkaplah pengabdian yang khusus kepada Sabda Allah dan perutusannya. Hidup-Nya adalah hidup kita, perutusan-Nya adalah perutusan kita. Dan moto Serikat Sabda Allah adalah, our name is our mission (Nama kita adalah misi kita). Kita semua dipanggil untuk menjadi misionaris pewarta Sabda.
Jika kembali ke awal abad silam, pada tanggal 30 Januari 1901, Paus Leo ke-13 secara resmi mensahkan nama serikat kita menjadi SERIKAT SABDA ALLAH. Malam harinya ada ibadat ucapakan syukhur (Te Deum) atas pemberian nama itu, dan sejak awal, Santo Arnoldus Janssen percaya bahwa dengan nama itu, pendiri Serikat yang sesungguhnya adalah Sang Sabda, Tuhan sendiri. Sebelumnya, dalam rumusan Kapitel Jenderal SVD yang pertama tahun 1885, Pater Arnoldus menjelaskan Sabda Allah mesti dipahami dalam kerangka hubungan yang istimewah dengan setiap pribadi Ilahi; Sabda Bapa, Sabda Putra, dan Sabda Roh Kudus. Sabda Bapa tidak lain adalah Sang Putra, pribadi kedua Tritunggal Mahakudus. Sabda Putra adalah injil, cinta kasih Bapa yang diwartakan. Sabda Roh Kudus, adalah Dia yang mengilhami dan berbicara melalu Kitab Suci serta membentuk Gereja, tubuh mistik Kristus. Roh Kudus itu pula lah yang memberi kekuatan untuk pewartaan kerajaan Allah di seluruh penjuru dunia, bahwa di dunia yang tidak mengenal Kristus sekalipun.
Dua hal yang mungkin bisa kita lakukan. Pertama, berakar pada Sang Sabda (rooted in the Word of God) dan kedua, setia menjadi pewarta Sabda. Berakar dalam Sang Sabda berarti kita membiarkan Kristus, Sang Sabda, tinggal di dalam kita, atau membiarkan hidup kata-kata-Nya bukan hanya diresapi, tetapi juga, secara lebih radikal hidup kita mesti dirasuki oleh Sang Sabda itu sendiri. Sementara, setia menjadi pewarta Sabda berarti kita semua dipanggil untuk meneruskan karya pewartaan yang diwariskan oleh Yesus Sang Guru dan para rasul kepada kita sebagai pengikut Kristus. Sebagai seorang biarawan misionaris SVD, kita semua adalah pewarta Sabda zaman ini. Salah satu nama resmi serikat kita (SVD) dalam bahasa Inggris adalah the Divine Word Missionaries, atau Misionaris Pewarta Sabda. Sabda yang kita dengar, baca, dan hidupi mesti juga diwartakan kepada semua orang.
Saya menutup renungan ini dengan sebuah puisi yang saya kutip dari sebuat surat untuk misionaris di tanah misi yang ditulis oleh mahasiswi PKK (Pendidikan Keagamaan Katolik) IFTK Ledalero tingkat 1. Puisinya berjudul, “Jalan Menuju Sang Sabda”.
Panggilan menuju Sang Sabda,
Bukan semata keinginan hati yang tersembunyi,
Bukan sekedar impian yang terbang tinggi,
Namun suara hati yang merasuk sukma,
Memanggil jiwa untuk melayani, penuh setia.
Jalan ini berliku, sering kali tak pasti,
Terjal mendaki, terkadang badai menghampiri,
Namun di setiap langkah, ada tangan terkasih,
Menopang, menuntun, menjauhkan diri dari letih
Menempa jiwa menjadi bejana penuh cahaya,
Agar tak tersesat, tak kehilangan makna.
Tuhan memberkati.
