Tulisan ini bermula dari apa yang terjadi saat kuis berhadiah di group WA kami di Komunitas TRY (Transformative Youth) Sumur Yakub Indo-Leste pada Malming lalu. Para peserta kuis diminta menyebutkan 3 Perumpaan Yesus yang direnungkan oleh Gereja Katolik Sejagat selama Pekan Prapaskah III 2019 (17-23 Maret 2019) dan peserta diminta juga mencatumkan hari teks-teks itu direnungkan.
Seperti biasa, anggota yang tahu jawabannya langsung melayangkan jawabannya ke nomor WA saya. Menariknya, dalam tempo 2 menit sudah ada 2 orang penjawab (Rain & Emil) yang mengirim jawaban mereka ke WA saya. Kemudian menyusul 3 orang lainnya (Elsa, Ivon dan Hermin). Memang patut diakui kecepatan dan kelincahan kaum muda milenial sekarang dalam mengoperasikan alat-alat teknologi sekarang tak terbantahkan.
Kecepatan dan ketepatan jawaban mereka khususnya dari Rain dan Emil menumbuhkan rasa kagum dan sekaligus rasa ingin tahu saya alasan mengapa mereka begitu cepat menjawab pertanyaan yang menurut prediksi saya mestinya membutuhkan 5-10 menit karena mereka harus mengecek dulu jawabannya entah secara online ataupun lewat buku sumber yang bisa memberikan jawaban atas pertanyaan itu. Apalagi jawaban Rain menyertakan juga seluruh teks Kitab Suci yang dimaksud. Tentu saja jawaban demikian membutuhkan waktu tambahan lagi untuk menambahkan keseluruhan teks kalau dia harus mengetik di HP-nya.
Untuk Rain, saya tidak terlalu heran dan spontan saja saya menemukan alasan mengapa dia bisa menjawab begitu cepat. Karena dia biasa memposting setiap pagi teks-teks Kitab Suci yang direnungkan umat Katolik pada hari itu (teks bacaan harian) di Group WA komunitas Youth kami (TRY Sumur Yakub). Dengan demikian Rain cukup saja men-scroll teks-teks yang sudah pernah diposting dan copy paste ke WA saya. Yang masih menjadi pertanyaan besar untuk saya dan perlu upayakan adalah jawaban Emil. Mengapa dia juga begitu cepat menjawab pertanyaan kuis tersebut karena jawabannya ke nomor WA saya hanya berselang beberapa detik saja setelah jawaban Rain.
Maka ketika saya sedang menulis tulisan ini, saya coba japri Emil untuk mendapatkan alasan mengapa jawabannya sangat cepat atas pertanyaan tersebut. Dan ternyata Emil menceritakan bahwa dia juga sudah biasa meluangkan waktu setiap hari membaca dan merenungkan pesan-pesan bacaan harian yang biasa diposting oleh Rain dan beberapa frater yang sering memposting audio teks renungan di group kami. Emil juga menambahkan bahwa selain dia mendapatkan teks-teks Kitab Suci itu di group kami, Emil juga biasa mendapat kiriman audio teks Kitab Suci harian dari teman-teman fraternya yang dulu pernah sama-sama di biara karena Emil ini mantan Frater. Dia bahkan mengirim screenshoot audio teksnya ke saya.
Dengan demikian jelas lah bagi saya mengapa Rain dan Emil begitu cepat menjawab pertanyaan kuis tersebut. Jawabannya: KARENA MEREKA SUDAH TERBIASA MEMBACA DAN MERENUNGKAN teks-teks Kitab Suci yang direnungkan setiap hari menurut Liturgi Gereja Katolik di seluruh dunia. Maka tidak mengherankan keduanya begitu cepat mendapatkan jawabannya karena mereka tahu di mana sumbernya dan Rain juga sudah terbiasa memposting teks-teks tersebut sehingga kebiasaannya itu membantu dia juga dalam proses mendapatkan dan mengirim jawaban kuis itu ke nomor WA saya. Rain bahkan menambahkan teks-teksnya secara keseluruhan karena itu lah yang bisa dia lakukan setiap pagi hari sehingga dia sudah terbiasa dengan proses tersebut.
PESAN INSPIRATIF DARI KISAH TERSEBUT
Kisah di atas menghantar kita mengamini bahwa kita hidup dari kebiasaan. Dan kisah ini pula menghantar kita merenungkan apa saja kebiasaan yang telah saya bangun dan telah saya install di dalam hidup saya demi kehidupan pribadi saya, dan kehidupan bersama sesama dan Tuhan.
Jangan lupa kebiasaan selalu terkait erat juga dengan pola pikir, pola tutur dan pada akhirnya bermuara pada sikap dan karakter kita. Kalau kita mengakui peran karakter dalam menentukan bahagia tidaknya hidup kita maka kita akan mengakui pula pentingnya proses membangun karakter yang baik dan benar melalui kebiasan-kebiasaan dalam kehidupan harian kita, baik dalam diri kita maupun dalam relasi dengan sesama dan Tuhan sebagai penuntun hidup kita.
Apa yang kita tanam, itulah yang kita panen. Kebiasaan baik, benar dan luhur akan menghantar kita mendapatkan hidup yang baik, benar dan luhur. Dalam hal ini kita tentu setuju dengan kata-kata Dalai Lama, salah seorang Guru publik di zaman kita ini:
Jagalah pikiranmu karena akan menjadi perkataanmu, jagalah perkataanmu, karena akan menjadi perbuatanmu. Jagalah perbuatanmu karena akan menjadi kebiasaanmu. Jagalah kebiasaanmu karena akan membentuk karaktermu. Jagalah karaktermu karena akan membentuk nasibmu, dan nasibmu akan menjadi kehidupanmu, dan tidak ada agama yang lebih dari pada “KEBENARAN ini”.
Maka pertanyaan penting di sini yang perlu masing-masing kita renungkan adalah: apa saja pola pikir, pola tutur, pola sikap yang biasa saya hidupi dan lakoni dalam hidup saya. Jawaban yang jujur atas pertanyaan ini akan menghantar kita pula bisa menilai kira-kira karakter apa yang saya miliki sekarang dari kebiasaan yang sudah saya bangun selama ini melalui pola: pikir, kata dan tindakan saya. Kesadaran akan hal ini menghantar kita bisa menilai apa saya sedang berada pada kebahagiaan yang sebenarnya atau pada suka cita semu. Apakah pola hidup dan karakter yang saya miliki ini bisa membantu saya menggapai masa depan dan cita-cita serta kebahagian yang saya impikan atau tidak.
Apa pun situasi kita sekarang kita perlu terima sebagai buah dari proses yang kita lalui. Sikap realistis ini akan membantu kita bersikap realistis terhadap siapa kita sekarang ini dan sekaligus memotivasi kita meneruskan yang baik dan memperbaiki yang perlu ditata. Tidak ada kata terlambat bagi siapa saja yang mau hidup lebih baik, yang penting berani memulai. Karena kalau tidak berani memulai maka semua harapan indah tetap impian. Tetapi kalau berani memulai maka sekalipun hasilnya belum maksimal tapi paling kurang kita sudah melangkah selangkah bahkan beberapa lebih baik dari sebelumnya. Dan Tuhan tidak mungkin membiarkan kita berjuang sendirian. Maka iman akan pertolongan kasih dan kuasa Tuhan dalam proses ini turut menentukan dan memantapkan langkah perjuangan kita.
Senada dengan arah pemikiran Dalai Lama dan peran iman di atas, Mahatma Gandhi mengatakan: your beliefs become your thoughts, your thoughts become your words, your words become your actions, your actions become your habits, your habits become your values, and your values become your destiny.
Dari pernyataan tersebut meyakinkan kita pula bahwa Iman kita akan Allah andalan kita akan menjadi kompas penuntun langkah suka duka hidup kita dan menghantar kita pada kebahagiaan dan sukacita yang sebenarnya.
Inilah alasan mengapa kita mengakui Tuhan kita melalui ungkapan yang kita semua tahu: ALLAH BISA KARENA BIASA. Allah bisa mengasihi dan memperhatikan kita karena Dia sudah biasa mengasihi dan memerhatikan manusia dari zaman ke zaman dan kita pun sudah terbiasa mengalami kasih perhatianNya dalam hidup kita. Allah bisa menjadi kompas penuntun dan andalan hidup kita karena Dia sudah biasa menuntun manusia dari waktu ke waktu dan juga karena manusia sudah terbiasa mengandalkan Dia sebagai kompas dan andalan hidup kita dalam segala situasi.
Mari kita saling membantu membangun KEBIASAAN YANG BAIK, BENAR DAN LUHUR demi kebahagiaan dan sukacita hidup kita. Sekali lagi tidak ada kata terlambat, yang diperlukan adalah berani memulai.
Tuhan memberkati perjuangan kita sekalian.
Salam dan berkat,
John Masneno, SVD (Moderator Transformative Youth Sumur Yakub Indo-Leste)
Tuhan punya cara menyapa kita dalam perjalanan hidup kita melalui hal-hal atau peristiwa yang sederhana dan biasa-biasa namun punya daya sapa luar biasa bila kita menaruh perhatian pada sapaan-sapaan sederhana itu. Sejalan dengan kebenaran itu, kita diajak merenungkan refleksi singkat seorang Frater -Fr. Wilfridus Oki, SVD namanya- yang disampaikan pada Misa Kudus di Kapela Agung Ledalero dalam rangka memperingati kematian Santu Yohanes Pembaptisan.
Refleksi Fr. Wil menyampaikan refleksinya yang singkat tapi sungguh bernas untuk direnungkan. Refleksinya berkaitan dengan pesan Injil Markus 6: 17-19 yang berisi tentang permintaan Herodias melalui putrinya kepada Raja Herodes untuk menyerahkan baginya kepala Yohanes Pembaptis. Renungan singkat Fr Wil mengandung kebenaran yang perlu direnungkan oleh siapa saja karena bernada introspektif. Berikut ini adalah renungan singkat yang disampaikan Fr Wil saat misa pagi di Kapela Agung Seminari Tinggi Ledalero dalam rangka memperingati Kematian Santu Yohanes Pembaptis:
Saudara-saudariku yang terkasih dalam Kristus,
Acapkali manusia malu kalau dicap penjilat ludah sendiri. Manusia, termasuk kita semua, enggan menarik kembali setiap kata (apalagi sumpah) yang kita ucapkan kepada orang lain walau hal itu berakibat buru bagi diri kita dan orang di sekitar kita. Mungkin bisa dikatakan bahwa kita kerap kali dikuasai oleh ego dan gengsi.
Raja Herodes dalam kisah kematian Santu Yohanes Pembaptis menyuruh memenggal kepala Yohanes Pembaptis hanya karena dia mau menyenangkan hati putri Herodias dan terlebih menjaga gengsinya di depan para tamu yang hadir saat itu dan mendengar langsung janjinya kepada Putri Herodias bahwa dia akan memberikan apa saja yang dimintanya. Herodes sendiri sebenarnya mengalami konflik bathin saat harus mengambil keputusan untuk menyuruh para alogojo memenggal kepala Yohanes Pembaptis. Alasannya karena dia tahu baik bahwa Yohanes Pembaptis adalah orang baik dan suci yang mewartakan kebenaran dalam kata dan hidupnya. Karena alasan itu maka sebenarnya Herodes melakukan suatu tindakan yang sebenarnya melawan hati nuraninya sendiri.
Kisah naas ini ditulis dalam Kitab Suci agar pertama, menjadi peringatan bagi kita dari waktu ke waktu agar kita lebih berhati-hati dalam bertutur dan bertindak khsussnya dalam kata dan tindakan kita yang berhubungan erat dengan nasib orang lain. Kita diajak untuk tidak secara gamlang atau seenaknya saja membuat sumpah atau mengeluarkan kata-kata kepada siapa saja tanpa terlebih dahulu memikirkanya secara matang efeknya. Kita perlu mempertingkan akibat-akibat buruk sebagai konsekuensi lanjut dari ucapan dan tindakan kita.
Pesan kedua dari kisah ini yakni, hendaknya peringatan kematian Santu Yohanes Pembaptis semakin mengobarkan semangat dan tekad kita sebagai abdi-abdi Tuhan untuk tetap menyuarakan kebenaran dan keadilan dalam hidup kita. Pewartaan ini hendaknya dimulai dari kesaksian hidup pribadi kita dalam keseharian hidup kita sehingga apa yang kita suarakan kepada orang lain dibenarkan juga oleh sikap hidup harian kita.
Tuhan memberkati kita selalu.
(Fr Wilfridus Oki, SVD, Tingkat II Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero-Maumere Flores-NTT)
Kebahagiaan merupakan salah satu tujuan utama yang hendak digapai oleh setiap kita. Setiap aktifitas yang kita lakukan setiap hari senantiasa bertujuan untuk memperoleh kebahagiaan yang kita harapkan itu. Karenanya kita berjuang dan terus berjuang menata hidup dan seluruh kegiatan kita agar bisa menghantar kita menemukan kebahagiaan itu.
Menariknya takaran kebahagiaan setiap orang selalu berbeda-beda. Hal inilah yang membuat orang-orang yang sedang mencari model kebahagiaan sejati kadang bingung dan bertanya-tanya: manakah kebahagiaan sejati yang perlu diupayakan akan kita memperoleh kebahagiaan yang sesungguhnya.
Menjawab pertanyaan tersebut, penginjil Lukas (Lukas 6:20-23) menampilkan TIPS spiritual yang perlu dilakukan dan dihindarkan sebagaimana disampaikan oleh Yesus, Guru Kebenaran Sejati dalam upaya menggapai kebahagiaan:
Dari ajaran Yesus tersebut kita menemukan bahwa ternyata kebahagiaan merupakan suatu hasil dari sebuah proses yang perlu kita upayakan. Bagi mereka yang tidak mau berproses dalam situasi hidup yang disebutkan Yesus tersebut, akan melihat ajaran-ajaran Yesus tersebut hanya sebagai kata-kata hiburatif semata. Anehnya tuntutan mau bahagia kadang bahkan sering mendorong mereka untuk menempuh jalan pintas dalam upaya menggapai kebahagiaan. Tapi biasanya kebahagiaan yang didapatkan dengan jalan demikian apalagi tidak halal akan membuat orang itu tidak menemukan kebahagiaan sejati.

Hanya ketika kita mau masuk dalam suatu proses memperjuangkan amanah-amanah bijak tersebut, di sana kita akan belajar mengenal, memahami dan mengakui bahwa di balik ajaran suci itu ada kebenaran yang memerdekakan dan membahagiakan. Dengan kata lain:
Mari kita terus berupaya menghindarkan diri kita dari hal-hal yang tidak mampu membuat kita menggapai kebahagiaan abadi. Dan sebaliknya terus mengupayakan hal-hal yang bisa menghantar kita menggapai kebahagiaan sejati.
Oleh Fr. Charly Ka’u, SVD, (sedang menjalani masa formasi Imamatnya di Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero)
Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus,
Berkenaan dengan Injil hari ini dari Matius 10: 16-23, saya mengajak kita sekalian merenungkan janji dan peneguhan Yesus kepada para muridNya ketika mereka diutus mewartakan Kabar Gembira dan menyebarkan Kerajaan Allah ke seluruh dunia. Yesus secara terbuka menyampaikan kepada para muridNya bahwa dalam menjalankan tugas perutusan, mereka akan dihadapkan juga pada situasi sulit. Namun Yesus meneguhkan mereka untuk tidak cemas dan takut menghadapi semuanya itu karena Roh BapaNya akan berkarya menolong mereka. Bila janji ini ditelusuri dalam kisah hidup dan karya pewartaan para Rasul, hal ini sungguh terbukti kebenarannya. Roh Allah senantiasa membimbing mereka dalam segala karya mereka termasuk dalam situasi sulit.
Maka teks ini mau mengingatkan kita para rasul Tuhan masa kini agar yakin akan pertolongan Roh Allah dalam hidup dan karya kita khususnya di saat kita menghadapi tantangan dan kesulitan. Secara pribadi Sabda Tuhan ini kembali meneguhkan saya akan inspirasi-inspirasi yang saya dapatkan dalam Lokaretret Bibliodrama yang sedang saya jalani selama hari-hari ini. Program Spiritual ini membantu saya makin diteguhkan dalam keyakinan saya akan penyelenggaraan Ilahi dalam hidup dan karyaku sebagai abdi Roh Kudus. Roh Tuhan sungguh senantiasa berkarya dalam hidup kita baik dalam hal-hal kecil-sederhana maupun hal-hal besar yang kita alami.

Dan saya yakin saudara-saudari juga meyakini hal yang sama berdasarkan pengalaman iman yang kita alami dalam hidup kita. Peneguhan Ilahi yang kita alami langsung dalam hidup kita semakin meneguhkan kita akan kebenaran iman kita akan adanya kesetiaan Tuhan yang tidak pernah menjauh dari hidup kita. Bila kita sungguh berpasrah dalam keyakinan Iman akan penyelenggaraan Ilahi serta tekun berakar pada Sang Sabda maka tidak ada yang harus dikhawatirkan.
Yang terpenting bagi kita adalah perlunya membuka mata hati dan telinga iman kita untuk melihat dan mendengarkan cara kerja Roh Allah yang berkarya menolong kita dalam kesulitan dan tantangan yang kita alami. Kesediaan mengasah kepekaan ‘menangkap’ karya Roh Allah akan besar perannya dalam perjalanan kehidupan rohani kita. Kita akan mudah menangkap karya Ilahi dalam hidup kita. Sebaliknya, kurangnya perhatian dan kesadaran akan hal ini membuat kita mengalami kesulitan dalam memahami dan ‘melihat’ penyelenggaraan Roh Allah dalam hidup kita. Hal ini bisa membuat kita mempertanyakan janji penyelenggaraan Tuhan kepada kita. Padahal akar persoalan bukan pada Tuhan tetapi pada diri kita yang tidak mampu ‘menangkap’ karya Allah dalam hidup kita.

Mari kita merenungkan pesan Injil hari ini seraya terus membuka diri pada tuntunan Roh Allah agar kita mampu memahami cara kerjaNya dalam hidup kita dan berani berpasrah diri pada penyelenggaraan IlahiNya.
DOA PENEGUHAN :
Bapa Di Surga, bantulah kami anak-anakMu agar kami mampu menyadari dan melihat bantuan karya RohMu sebagaimana diajarkan dan dijanjikan Yesus PutraMu agar kami semakin percaya dan berani menaruh harapan pada penyelenggaraanNya dalam hidup kami termasuk dalam kesulitan kami. Sehingga kami makin mengimani dan mengagungkan Dikau bersama Yesus PutraMu dalam persekutuan dengan Roh Kudus, kini dan sepanjang masa. Amin.
(Oleh Sr. Floriana, SSpS, di Komunitas Provinsialat SSpS Jawa di Surabaya dan berkarya sebagai Prokurator Misi Provinsi SSpS Jawa).
Slogan 'Just Do It!' mungkin tidak asing bagi telinga kita. Bagi penggemar sepatu olah raga "Nike", slogan ini sudah meresap dalam sanubarinya. Tentu saja, dalam dunia olah raga yang sarat akan kompetisi, slogan ini menjadi cocok dan terdengar pas rasanya. Apa yang awalnya dirasa berat dan sulit, bila kita perdengarkan slogan ini, semuanya menjadi mungkin dan bisa terasa lebih ringan. Just do it!
Seringkali dalam hidup ini juga kita rasakan demikian. Banyak persoalan dan tantangan hidup yang membutuhkan perhatian kita agar keseimbangan hidup kita terjaga. Acapkali kita seperti Santu Petrus yang merasa bimbang dan ragu-ragu untuk melangkah dan mengambil keputusan, takut manakala keputusan itu nantinya akan berdampak ini dan itu. Tapi satu hal yang hendaknya dipegang oleh pengikut Kristus adalah janji-Nya adalah ya dan amin, dan kita diminta untuk berserah penuh terhadap kehendak-Nya. Roh Kudus akan membimbing dan menuntun setiap langkah kita, asalkan kita juga memelihara dan mengimani Roh Kudus sebagai roh pembimbing kita. Hal ini hanya dapat kita rasakan bila kita bergaul erat dengan Roh Kudus. Discernment atau upaya pembedaan Roh untuk memilih yang terbaik dan paling tepat akan dirasakan bagi mereka yang berserah penuh terhadap kehendak-Nya. Rasul Paulus juga telah membuktikan kebenaran hal ini dalam hidupnya sendiri.

Mari kita belajar dari teladan St. Petrus dan St. Paulus, dua tokoh misionaris besar dalam Gereja Katolik. Tiada hari berlalu tanpa pewartaan Firman Tuhan dari mulut mereka, tiada hari berganti tanpa kesaksian hidup yang mereka sebarkan di seluruh kota yang mereka lalui. Keberanian, kegigihan, keuletan, dan semangat pantang menyerah mereka sungguh luar biasa. Padahal bila kita membaca latar belakang St. Paulus sebelum ia bertobat, sungguh merupakan pembalikkan seratus delapan puluh derajat dari apa yang ia lakukan setelah bertobat. Hal ini membuktikan bahwa tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Ia sanggup mengubah segala sesuatu yang terlihat tidak mungkin menjadi mungkin adanya. Kuncinya: Just do it! Lakukan saja apa yang menjadi bagian kita dan Tuhan akan menyelesaikan sisanya bagi kita.
Dalam kehidupan kita sehari-hari, hal yang tersulit untuk mencapai sesuatu adalah langkah awal/langkah pertama yang harus kita lakukan. Tanpa langkah awal tersebut, niscaya tidak ada prestasi yang akan kita capai. Hal itulah yang menjadi tantangan untuk setiap pekerjaan atau niat apapun yang hendak kita lakukan. Orang yang berniat merampingkan tubuhnya tidak pernah akan terwujud bila dia tidak pernah memulai berusaha mewujudkan niatnya itu. Begitu niat lain tidak pernah akan terwujud tanpa perjuangan mewujudkannya. Apakah itu mudah? Jawabannya sama sekali tidak! But, just do it! Tidak ada keberhasilan yang dicapai secara instan, semua butuh proses dan dalam proses tersebut suka dan duka kerapkali menghampiri. Proses jatuh-bangun itulah yang menentukan karakter seseorang, apakah nantinya akan menjadi tahan uji atau tidak. So, sekali lagi, just do it!

Jadi, sapaan Tuhan hari ini ingin menekankan kepada kita pentingnya dua hal yakni percaya dan lakukan -believe in God and just do it! Kemuridan Santu Petrus dan Santu Paulus mengajarkan kita bahwa kita tidak perlu meragukan tuntunan Tuhan dan Roh Kudus akan membawa kita ke mana, jalan di depan kita mungkin terlihat gelap dan sempit, tapi Tuhan punya cara memberikan mahkota kemenangan bagi kita yang telah menyelesaikan perlombaan kehidupan ini...
Tuhan, bantulah kami mengikuti teladan hidup Santu Petrus dan Santu Paulus yang rela meninggalkan segalanya demi mengikuti Dikau. Semoga kamipun mampu berjuang dari waktu ke waktu mewujudkan kemuridan kami dalam mengikuti Dikau. Amin.
Oleh dr. Yudy (berkarya di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta)
Salam Kasih dalam Kristus untuk Saudari/a di mana saja berada. Berkenaan dengan Injil hari ini dari Matius 7: 6, 13-14 tentang ajakkan mengikuti jalan yang benar dan menyelamatkan, saya mengajak saudari/a sekalian merenungkan pesannya untuk kita. Saya membagikan refleksi saya bertolak dari kisah nyata yang saya alami.
Nama saya Elly dan suami saya Frederik (orang Jerman); saya tinggal di Jerman sejak 44 tahun lalu. Lain padang lain belalang. Begitupun kebiasaan dan cara hidup di Jerman dan sudut pandang masyarakatnya berbeda dengan keadaan di Indonesia. Itulah yang saya alami termasuk pengalaman bersama suami saya yang berbeda cara pandang tentang Tuhan dan perjuangan membawa dia pada Tuhan. Maka ketika membaca perikop ini, spontan mengingatkan saya kembali di saat saya demikian berusaha meyakinkan suami saya bahwa kepercayaan, iman dan mengikuti jalan Tuhan adalah hal penting sekali dalam hidup ini (bagiku pribadi, ini adalah mutiara yang tiada ternilai tinggi nilainya).

Masih segar dalam ingatan saya tentang perjuangan imanku tanpa kenal putus asa, walau untuk sekian lamanya tidak berhasil meyakinkan Suamiku untuk mengimani Tuhan. Bujukkan langsung tetap ditolaknya dan untuk menghindari kekerasan maka lebih baik mencari jalan lain, yaitu melalui doa. Untuk sekian lamanya saya dengan tetap setia mendoakan suami pada Bunda Maria. Dan kasih Tuhan benar ada dan amat dahsyat. Bapa mempunyai jalanNya tersendiri dalam membimbing dan mengarahkan setiap anakNya pada diriNya. Itulah yang kami alami walaupun kejadian ini sangat berat saat menghadapinya bahkan sempat membuat kami semua cemas dan khawatir tapi boleh dibilang ini adalah kisah blessing in diguise, berkat tersembunyi di balik kesulitan.
Ya, bermula dari kisah tragis di mana Frederik mengalami kecelakaan sewaktu dia bersepeda di desa kami tinggal. Dia dengan sepedanya disambar mobil dan terlempar jatuh. Frederik, statusnya gawat saat itu, semua tulang rusuk kiri patah kecuali rusuk ketiganya. Dia diangkut dengan helikopter darurat ke Rumah Sakit di Uniklinik Mainz. Sewaktu saya bertemu dia di ICU, syukur bahwa dia masih bisa bicara saat itu. Salah satu pertanyaan saya, apakah Frederik mau bicara dengan Romo dari paroki kami? Dan dia mengangguk tanda setuju. Syukur kepada Tuhan bahwa Frederik telah membuka hatinya dan mau kalau dikunjungi Romo. Perawatan di Rumah Sakit selama satu bulan, kemudian dilanjutkan dengan perawatan rehabilitasi di Wiesbaden selama delapan minggu. Romo sering mengunjunginya dan setelah balik ke rumah, Frederik dengan rutin datang dan berkonsultasi dengan Romo. Enam bulan setelah Frederik mengalami kecelakaannya, dia menyatakan kesediaannya mau menjadi Katolik. Alangkah indahnya karyaMu Tuhan!

Itulah kisahku tentang kerinduan sekian lama agar sang suami mau membuka hatinya bagi Tuhan Yesus, akhirnya dikabulkan. Memang jalannya tidak segampang membalikkan telapak tangan. Namun Tuhan Yesus telah mendengar dan meluluskan doa dan permohonanku bagi Frederik. Walaupun melalui jalan yang sempit dan curam seperti Injil hari ini, melalui kecelakaan yg telah dia alami – “gerbang yang sempit yang membuka jalan menuju kehidupan yang aman dan bahagia“- Tuhan telah menyelamatkan Frederik dengan jamahan kasih dan kuasa Allah Roh Kudus. Kami sangat berbahagia merasakan kasih Tuhan. Semua proses persiapan dan penerimaan di komunitas Katolik telah dilakukan, antara lain: menyambut komuni pertama dan sakaramen Krisma. Dan sekarang kami boleh bersama-sama melayani Tuhan Yesus di paroki dan dalam Komunitas kami. Danke Jesus!
Saya terbuka mensharing pengalaman ini karena mungkin bisa menjadi inspirasi dan peneguhan bagi saudara-saudari yang sedang berada dalam situasi seperti yang saya ceritakan. Semoga melalui kesaksian hidupku, kita dapat belajar dan mendapat penguatan dalam iman, harapan dan kasih. Agar kita dapat:
Tuhan memberkati kita sekalian.
Doa Peneguhan:
“Trima Kasih Yesus, kami telah merasakan betapa besarnya kasih-Mu. Biarkanlah hari ini banyak orang mengalami kasih-Mu, terutama mereka yang lemah, sendiri dan merindukan-Mu.”
(Oleh : Ibu Elly Lupini, tinggal di Hessen, Jerman).
Merenungkan pesan Sabda Tuhan hari ini dari 2 Raja 17 dan Matius 7:1-6, saya melihat bahwa pesan ini sangat cocok dengan situasi kehidupan kita akhir-akhir ini. Kita semua tahu kenyataan dunia kita sekarang ini di mana manusia mudah sekali menghakimi atau mengadili orang lain. Anehnya sikap cepat menghakimi orang lain ini tidak dibarengi sikap mengoreksi diri sendiri bahkan boleh dibilang sulit dilakukan. Mungkin salah satu alasan klasik dalam hal ini yakni sikap bathin merasa diri lebih baik dari orang lain atau juga sikap suka menuntut orang lain secara berlebihan.
Yesus justru mengajarkan kepada kita dalam teks Injil hari ini untuk melihat dan mengoreksi diri kita sendiri dahulu sebelum melihat dan mengoreksi kekurangan dan kesalahan orang lain. Peringatan ini tentu saja tidak bermaksud menghilangkan praktek koreksi-mengoreksi di antara kita. Yang dimaksudkan Yesus di sini adalah perlunya sikap koreksi orang lain disertai kesadaran akan ketidaksempurnaan diri dan kesediaan mengoreksi prasangka dan kesalahan sendiri juga. Artinya sikap koreksi mengoreksi lebih didorong oleh sikap tulus untuk saling memperbaiki dan mengarahkan ke hal yang lebih baik. Bukannya menyudutkan orang lain dengan menunjuk kesalahannya tanpa disertai kesediaan membuat hal yang sama pada diri sendiri. Padahal mungkin kesalahan kita lebih besar dari orang yang kita ‘pojokkan’ sebagaimana perbandingan selumbar dan balok yang dipakai Yesus dalam Injil.

Sekali lagi kelemahan kita pada umumnya adalah sikap mudah menghakimi orang lain tapi enggan mengoreksi diri. Hal ini akan terus terjadi kalau kita belum sadar bahwa tidak seorang pun sempurna di dunia ini. Sebenarnya kalau kita renungkan, semakin kita melakoni hal itu (menghakimi dan menuntut orang lain tanpa sikap yang sama dari diri kita) justru di situlah tampak kelemahan kita; makin tampak jelas bahwa kita rapuh karena tidak berkaca pada diri sendiri. Dan kita akan terus menuntut orang lain melakukan segala sesuatu tanpa cacat, dan harus serba sempurna seturut apa yang kita pikirkan dan rasakan. Bukankah sikap demikian sama dengan sikap bangsa Israel yang tegar hati dan menuntut Tuhan seperti yang mereka pikirkan, hingga bermuara pada sikap mendua hati.

Maka pertanyaan di sini adalah apakah kita seperti bangsa Israel yang sering menuntut Tuhan tapi lupa melihat kebaikan Tuhan dalam hidup kita? Apakah kita juga mudah memojokkan orang lain tapi kita sendiri enggan mengoreksi diri?
Mari kita merenungkan kebenarannya dalam diri kita masing-masing seraya membangun sikap adil dalam diri untuk berani mengoreksi diri juga bila ada sikap suka mengoreksi orang lain. Kita juga berniat menumbuhkan sikap tulus dalam koreksi-mengoreksi dengan intensi mulai untuk memperbaiki dan membangun kebersamaan kita bukan sebaliknya.
DOA PENEGUHAN:
Tuhan yang mengetahui baik siapa di kami dalam konteks-Mu hari ini. Tuntunlah kami untuk menghayatinya dalam kebersamaan kami. Tumbuhkan kebaranian untuk berani melihat diri sendiri sebelum melihat kekuarangan orang lain. Berikan kami juga keikhlasan dalam upaya saling memperbaiki demi sesuatu yang lebih baik dalam kebersamaan kami satu sama lain. Dengan demikian kami memancarkan cahaya kasih suka cita dan cinta damai dalam kehidupan bersama sehingga namaMu dimuliakan selamanya. Amin
Oleh Ibu Maria Veronica Heriyati (Pimpinan Komunitas Kerahiman Ilahi Alam Indah Tangerang-Banten)
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, damai bagimu sekalian!
Di kala banyak orang masih mencari-cari tumpuan harapan khususnya di saat dilanda tantangan dan kesulitan yang mencemaskan, Yesus melalui Injil hari ini meneguhkan kita akan Allah sebagai penjamin hidup kita. Permintaan Yesus hingga tiga kali ini membuat kita yakin bahwa Allah kita adalah seorang Bapa yang menaruh perhatian kepada anak-anakNya serta kebutuhan mereka. Yesus meminta kita berulang-ulang agar “janganlah kuatir” karena Allah sanggup menolong kita asal kita percaya dan terbuka pada penyelenggaraan Ilahi-Nya. Di sini problem manusia karena tak sedikit orang yang mengharapkan pertolongan Tuhan namun masih lemah dalam iman dan kurang berserah sungguh kepada penyelenggaraan Tuhan.
Dan Yesus memberi kita solusi untuk tidak kuatir. Pertama, Yesus mengajak kita untuk belajar sikap pasrah total makluk hidup lain yang membiarkan diri diatur oleh Tuhan. Jika Tuhan merawati mereka, tentu Tuhan akan lakukan hal yang sama juga bagi kita. Namun ketika manusia kehilangan keyakinan ini maka dia merasa dia yang perlu berjuang habis-habisan untuk memenuhi hidupnya. Hal itu benar tetapi bukan berarti mengesampingkan peran Tuhan atau bahkan menganggap Tuhan tidak punya peran dalam hidup. Semakin orang hidup dalam situasi demikian, kecemasan akan makin menghantaunya karena sehebat apappun dia dalam upaya menjamin hidupnya, kemampuannya toh terbatas. Ada hal-hal tertentu yang tak bisa dia gapai sendiri bahkan oleh sesama manusia yang lain. Di sini manusia butuh pertolongan Sang Mahakuasa. Menyangkal hal ini sama dengan menyangkal identitas dirinya sebagai makluk ciptaan Tuhan yang terbatas kemampuannya.

Solusi yang kedua adalah “mencari” dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya serta menghayatinya nilai-nilai kebenaran itu dalam hidupnya termasuk di saat sulit. Kelemahan manusiawi kita kadang membuat iman kita goyah, terlebih saat kita harus mengalami tantangan-tantangan berat dalam hidup, saat kita merasa Tuhan tidak ada di pihak kita, saat kita diliputi kemalangan atau sakit berat, saat kita berpikir tentang masa depan. Ajakan Yesus untuk mencari Kerajaan Allah dalam keseharian kita dengan cara hidup dalam tuntunan nilai-nilai kebenaran dan kemurahan hati untuk berbagi dengan sesama yang membutuhkan akan menjadi berkat bagi diri kita sendiri. Tuhan tidak akan melupakan kita, Dia akan memenuhi kebutuhan kita. Kasih setianya akan menyertai hidup kita.
Paus Fransiskus dalam wejangannya saat Angelus 26 februari 2017 mengatakan: “Allah bukanlah sosok yang jauh dan tak dikenal: Dialah tempat perlindungan kita, sumber ketenangan dan kedamaian kita. Dialah batu karang keselamatan kita, yang padanya kita bias melekat dalam kepastian tidak jatuh, barangsiapa yang melekat pada Allah tidak pernah jatuh! Dialah pertahanan kita dari kejahatan yang selalu mengintai. Allah bagi kita adalah sahabat, sekutu. Bapa kita yag agung, tetapi kita tidak selalu menyadarinya, kita tidak menyadari bahwa kita memiliki seoarng sahabat, seorang sekutu, seorang Bapa yang mengasihi kita, dan kita lebih suka bersandar pada benda-benda dekat yang dapat kita sentuh, pada benda-benda yang kebetulan ada, melupakan dan kadang kala menolak yang terutama yaitu, kasih kebapaan Allah”.

Marilah kita terus menerus berkanjang pada Tuhan, menaruh suka duka kita dalam Kerahiman Ilahi seperti kata Pemazmur: “serahkanlah kuatirmu kepada Tuhan, maka Ia akan memelihara engkau!” (Mzm 55:23). Allah yang adalah setia tidak akan pernah meninggalkan kita.
Doa :
Allah Pengasih, kami serahkan hidup kami hari ini. Sertailah kami selalu agar kiranya kami senantiasa percaya bahwa Engkau tidak pernah meninggalkan kami. Bantulah kami untuk peka akan kehadiranMu, untuk selalu setia mencari serta mewujudkan Kerajaan Allah di muka bumi ini.
Oleh Sr. Maria Fransiska Manek, SFSC (berkarya di Teano Provinsi Caserta-Italia Selatan)
Manusia terbiasa melihat apa yang tampak, segala yang berhubungan dengan fisik. Sementara Tuhan mampu melihat yang tidak tampak oleh mata manusia. Kita mungkin melihat seseorang memberikan persembahan/sumbangan besar kepada gereja, yayasan ataupun kegiatan kemanusiaan lainnya, tetapi sebatas itu sajalah kita dapat menilai orang tersebut. Mata kita tidak dapat menembus, melihat hati orang tersebut. Apakah di dalam hati masih ada sesuatu yang mengganjal mengenai seseorang yang belum dibereskan? Tuhan meminta sebelum persembahan diberikan, Dia ingin kita membereskan hati kita. BagiNya dasar persembahan adalah hati kita. Persembahan hati.
Hati adalah sesuatu yang tidak tampak, namun bisa kita rasakan dan mengerti secara jelas. Perasaan-perasaan yang muncul di dalam hati, positif atau negatif, bisa kita ketahui, bahkan seringkali menjadi penentu sikap dan perbuatan kita. Hati tidak pernah berbohong. Meskipun di mulut kita berkata tidak ada apa-apa, namun bila kita membenci/menyukai seseorang maka suasana hati kita tidak akan bisa berbohong. Tuhan sepertinya telah membuat hati ini sebagai alat ukur diri kita. Dan Tuhan ingin kita selalu menjaga hati kita tetap murni, bersih dan damai.

Dalam pesanNya mengenai persembahan, Tuhan meminta kita pergi berdamai dahulu, membersihkan hati dulu. Percuma saja bila kita berusaha menyembunyikan apa yang ada dalam hati kita, karena di hadapan Tuhan tidak ada yang tersembunyi, Tuhan tahu segalaNya. Karena itu akan menjadi sia-sia saja persembahan materi, tenaga, waktu dan pikiran kita pada Tuhan bila kita datang dengan hati yang belum bersih. Yang terutama dari semuanya adalah persembahan hati, barulah persembahan-persembahan lain akan berarti dan diterima Tuhan.
Jika demikian, rasanya menjadi begitu sulit bagi seseorang untuk bisa mempersembahkan persembahan. Sebenarnya tidak juga, asalkan kita mau mengikuti ajaran dan perintah Tuhan Yesus sendiri, yaitu: mengampuni dan mengasihi. Tuhan Yesus telah menebus dosa-dosa kita dan rela menderita sengsara dan mati di kayu salib karena kasihNya yang begitu besar pada kita semua. Teladan itulah yang seharusnya menjadi dasar bagi kita manusia untuk bisa selalu mau mengampuni dan mengasihi sesama kita, siapapun itu. Dan hal ini juga tertulis jelas dalam Alkitab. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. (Mat 5: 44)

Untuk memiliki hati yang bersih, kita harus rela mengampuni, juga meminta ampun tanpa rasa malu mengakui kesalahan-kesalahan kita. Bila segala ganjalan dan masalah telah hilang, kita akan memiliki hati yang bebas dari segala yang negatif, sehingga kita bisa mempersembahkan hati kita tersebut kepada Tuhan. Tuhan akan berkenan menerimanya. Usaha untuk membersihkan hati ini harus terus kita lakukan. Tuhan Yesus meminta kita terus berusaha. Dengan menyadari penuh bahwa dalam kedagingan kita sebagai manusia, kita memiliki kelemahan dan sering tak luput dari godaan dan cobaan, karena itu kita menerima bahwa diri kita dan orang lain tidak sempurna. Namun, itu bukan alasan untuk kita membiarkan diri kita tenggelam dalam kondisi ketidaksempurnaan. Setiap jalan panggilan ada suka dan duka. Semua jalan yang kita tempuh harus tetap kita jalani sebagai manusia yang utuh, belum setengah malaikat. Namun kita sama-sama harus terus berupaya berjuang mencapai kesempurnaan Bapa di surga dalam jalan panggilan kita masing-masing. "Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna." (Mat 5: 48)
Doa :
Syukur dan puji kami panjatkan ke hadiratMu ya Tuhan, karena telah Engkau perkenankan kami mengikutiMu. Tuhan Yesus, seperti apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami semua mengenai kasih, baik melalui firmanMu dan juga melalui perbuatanMu yang telah rela mati di kayu salib, mampukanlah kami untuk memiliki kasih sepertiMu. Berilah kami rahmat agar dapat mengampuni sesama, sehingga kami dapat memiliki hati yang bersih yang bisa kami persembahkan kepadaMu. Berkatilah juga kami semua dalam menjalani panggilanMu, sehingga kami memiliki semangat juang untuk mencapai kesempurnaan Bapa di surga dalam jalan panggilan kami masing-masing. Amin.
Salam kasih,
-Angel- (Ketua KBKK – Kelompok Bakti Kasih Kemanusiaan Jakarta)
Saudara/i yang terkasih dalam Kristus, saya mengajak kita meluangkan waktu sejenak merenungkan kebenaran di balik teks Injil inspiratif yang menjadi bahan permenungan hari ini dari Mat. 5:13-16. Ada satu dua inspirasi sederhana yang hendak saya kedepankan di sini untuk kita renungankan bersama sebab hal-hal itu ‘mengena’ dengan kehidupan kita sebagai saksi-saksi Kristus.
Hal pertama, Kamu adalah garam dunia, jika garam menjadi tawar dengan apakah iadi asinkan (Mt 5: 13)
Dalam keseharian hidup kita bila kita mau makanan yang sedap, maka kita perlu menambah makanan itu dengan garam secukupnya. Demikianlah kita sebagai orang kristen, Kristus menghendaki kita untuk menjadi garam dunia. Dengan menjadi garam dunia, Yesus menghendaki agar kehidupan iman kita berpengaruh pada lingkungan sekitar kita dan membawa perubahan pada dunia yaitu dunia menjadi lebih baik.
Kehadiran kita sebagai berkat bagi orang lain, tidak harus dalam bentuk perbuatan-perbuatan besar, tetapi bisa melalui hal-hal sederhana yang membuat kehadiran kita membawa arti bagi sesama. Ada banyak contoh yang bisa kita lihat dalam kenyataan hidup sehari-hari. Sebagai pegiat di dunia pelayanan kesehatan, kami berupaya mewujudkan peran kami sebagai garam bagi orang lain misalnya dengan memberi keringanan biaya dalam perawatan di Rumah Sakit untuk mereka yang kurang mampu. Atau bisa dengan cara melayani orang lain dengan ramah dan penuh kasih tanpa membeda-bedakan siapa dia.

Kiranya permenungan kita tentang sifat dan fungsi garam fisik yang biasa kita gunakan setiap hari menjadi inspirasi bagi kita agar kehidupan kita sebagai orang Kristen kiranya juga memberi "rasa"dalam keseharian hidup. Dengan demikian kehadiran kita ada faedah nya bagi sesama. Saya yakin selama ini kita telah berupaya tekun setia menjadi garam bagi sesama melalui tidakan-tindakan kecil dan sederhana sebagai perwujudan identitas kristiani kita. Di situlah kita sebenarnya telah berupaya memberikan pengaruh moral ditengah masyarakat dengan perkataan dan tindakan yang baik, benar serta luhur.
Sifat garam yang juga mudah larut mengajak kita juga untuk menghadirkan hal-hal yang mudah melarutkan kita dalam suasana damai dan gembira melalui sikap ramah, sopan dan murah senyum serta tegur sapa dalam pergaulan. Seperti garam yang sudah larut dalam makanan tidak tampak lagi secara fisik namun perannya dirasakan, demikian juga kesaksian hidup kita yang luhur memberi rasa cinta, rasa aman, rasa damai, rasa sukacita dan persaudaraan yang tulus.
Hal kedua, Kamu adalah terangdunia (Matius.5: 14)
Bila malam tiba semua orang membutuhkan terang, terlebih ditempat yang belum ada aliran listrik, maka terang itu sangat diharapkan & sangat berguna. Jadi terang sangat penting dan sangat dibutuhkan di saat gelap. Maka sangat tepat perumpamaan Yesus tentang diri kita sebagai terang bagi sesama. Dengan menjadi terang, Tuhan mengharapkan kita menjadi penyalur berkat yaitu mendatangkan terang keselamatan dan sukacita bagi orang lain terutama mereka yang hidup bersama kita. Hendaknya kita berupaya memancarkan kebaikan Allah dengan memperhatikan sesama, mau & rela berbagi dari kekurangan kita.

Buah yang diharapkan dari semangat dasar menjadi garam dan terang dunia adalah semakin banyak orang melihat segala perbuatan baik kita dan memuliakan Allah.
DOA PENEGUHAN
Tuhan bantulah kami agar hidup kami digarami dan diterangi oleh Dikau sendiri sehingga kami pun mampu menjadi garam dan terang bagi orang lain sehingga namaMu dimuliakan kini dan selamanya. Amin.
Bagaimana menyelaraskan nilai-nilai iman sejati dengan kecanggihan art...
Pada hari Sabtu, 15 Oktober 2022 yang lalu, Komunitas Verbum Domini (K...
Bible Zoom-Youtube Live-Streaming diadakan lagi oleh Tim Pengurus Pusa...
Tim Pengurus Pusat Spiritualitas (Puspita) Sumur Yakub SVD-SSpS Indone...
Tim Pengurus Pusat Spiritualitas (Puspita) Sumur Yakub SVD-SSpS Indone...
Nama yang dipilih untuk sentrum ini adalah “Pusat Spiritualitas Sumur Yakub” yang mempunyai misi khusus yaitu untuk melayani, bukan hanya anggota tarekat-tarekat yang didirikan Santu Arnoldus Janssen saja tetapi untuk semua... selebihnya