Renungan

Thursday, 07 October 2021 12:17

Kami Tidak Mewartakan Diri Kami Tetapi Yesus Kristus (Kor.4.5)

Written by Mgr. Ewaldus Martinus Sedu, Pr
Kami Tidak Mewartakan Diri Kami Tetapi Yesus Kristus (Kor.4.5) dok. Sumur Yakub

2 Kor 4,1-15-Lk 10,17-24

Oleh: Mgr. Ewaldus Martinus Sedu, Pr (Uskup Maumere)

"Aku bersyukur kepadaMu ya Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Kau sembunyikan bagi orang bijak dan pandai, tetapi kau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan di hatiMu (Lk 10, 21)."

Ucapan syukur dan bahagia Tuhan Yesus dalam injil suci pada hari ini membawa saya pada ingatan akan hidup sama saudara imam SVD yang pernah saya jumpai. Kesederhanaan hidup, ketulusan berkarya dan keberanian bersaksi adalah contoh hidup yang boleh saya alami dan temukan dalam begitu banyak biarawan SVD, yang saya jumpai dalam perjalanan imamat saya. Ada rasa kagum yang luar biasa betapa kecerdasan dan kepintaran yang mereka perjuangkan dan mereka hayati, tidak menjadi kecerdasan dari sebuah menara gading yang jauh, tetapi lahir dari penghayatan hidup sebagai putra-putra Sang Sabda, untuk pelayanan dengan penuh kerendahan hati.

Pada satu dua kesempatan, ketika masih berkarya di paroki yang ada di pedalaman desa pada tahun 1990-an, saya sungguh mengalami kesederhanaan hidup mereka, pastor-pastor SVD, yang dengan caranya membangun sebuah cara hidup bersaudara yang penuh ketulusan dan kerendahan hati, ada penghargaan satu sama lain, dan ada penghormatan pada karunia serta karisma satu terhadap yang lainnya. Refleksi hidup yang jujur, dengan kedalaman hati nurani dan kebeningan akal budi lahir dari para pastor SVD, dan pada gilirannya menenun keteladanan yang sangat berharga bagi perjalanan imamat kami, para pastor muda saat itu dan juga hingga saat ini.

Cara hidup yang mengagumkan itu, membawa refleksi ini pada sosok rasul Paulus yang memperoleh rahmat berlimpah ketika sinar kasih Allah menyinari kehidupannya untuk menjadi manusia baru dalam kebangkitan Tuhan. la, yang merasa tidak layak karena latar belakang hidupnya yang anti Kristus, kini dianugerahi rahmat untuk menghayati hidup sekarang sebagai bejana tanah liat. "Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah dan bukan dari diri kami (2 Kor 4,7)."

Kesederhanaan itu seringkali membawa kita terkenang akan teladan suci Bunda Theresa dari Kalkuta, yang menghayati kekudusan hidupnya di tengah suka duka hidup orang-orang miskin, yang membaktikan Kemurnian hidupnya dalam debu lumpur dunia antara kejahatan dan kebaikan, antara kekayaan dan kemiskinan dan antara kegelapan dan terang. la tetap sederhana, mulai dari dalam jiwanya hingga delem perbuatan nyata setiap hari. Di dalam perbuatan baiknya, ia pun menemukan titik-titik kehidupan yang penuh krisis, sebuah padang gurun kesepian dan kesendirian, namun ia tetap sadar Kristus yang disalibkan dan dibangkitkan adalah teladan kehidupannya sesungguhnya. Semakin murni kehidupan ini, semakin kita merasa kita bukanlah apa-apa di hadapan kerahiman dan belaskasih Allah. Panggilan dan status hidup apapun mesti diterima dengan rasa syukur dan dimaknai dengan perbuatan baik, dengan penuh cinta.

Menjadi imam bukanlah sebuah prestasi apalagi prestise, dengannya kita ditempatkan pada dunia yang lain, yang begitu agung dan mulia, atau mungkin jarak yang begitu dalam dengan orang lain. Pilihan untuk menjalani panggilan khusus, sesungguhnya datang dari kasih kerahiman Allah sendiri, kita yang sudah berada dalam jalan panggilan ini diajak untuk menanggapinya dengan penuh ketulusan dan tanggungjawab.

 

Saudara-saudari terkasih…

Ziarah panggilan 10 diakon, anak, saudara dan sahabat kita ini pun kembali menghadapkan kita pada belaskasih dan rahmat Allah dalam seluruh ziarah hidup mereka. Ada kekuatan dan kelemahan yang terpatri dalam diri mereka, ada keberhasilan dan kegagalan yang pernah mereka alami dalam perjuangan hidup mereka, baik di bangku sekolah atau kuliah ataupun di biara dan komunitas mereka masing-masing, Imamat suci kini akan melingkari seluruh jiwa raga, dan akan menguatkan mereka untuk terus berkarya apapun tantangan dan kesulitan yang akan dihadapi.

Surat Rasul Paulus kepada umat di Korintus adalah sebuah refleksi yang jujur dan tulus dari sosok Paulus tentang kehidupan jemaat dalam konteks kota Korintus pada saat itu. Kota pelabuhan dan kota perdagangan terbesar di daerah Yunani, dengan perbedaan sosial yang ekstrim (2/3 budak, 1/3 kaya). Kota yang terkenal karena dunia prostitusi kenisah Afrodite. Komposisi penduduknya beraneka: ada Yunani, Romawi, Timur, Yahudi dengan keyakinan, cara pandang yang berbeda. Dengan penuh iman, Paulus menyatakan misteri salib sebagai keutamaan yang mesti dihayati oleh jemaat Korintus sebagai murid-murid Yesus, meskipun ia berhadapan dengan kekokohan intelektual filsafat Yunani yang tidak mengenal misteri salib itu, yang dipandang malah sebagai kebodohan.

Inilah sebuah titik kehidupan Paulus yang memaknai salib dan penderitaan adalah jalan hidup yang tak terhindarkan dari sisi hidup yang penuh kegembiraan dan sukacita. Setiap orang Kristen harus berani turun dari gunung kehidupannya, keluar dari zona kemapanan dan kenyamanan untuk masuk dalam debu lumpur dunia serta menyempurnakannya dengan tubuh dan darah serta kebangkitan yang abadi. Kita pun terpanggil untuk menghayati kekudusan kita dalam suka duka dunia serta mempersembahkan seluruh hidup kita dalam rahmat serta belaskasih Allah.

 

Ada dua pesan Paulus dalam bacaan ini. Pertama, kekayaan dan jabatan, kepintaran dan kehebatan manusiawi bukanlah tujuan dari kehidupan orang-orang Kristen. Pengurbanan dan pemberian diri dalam Kristus mesti menjadi cara hidup orang Kristen. Harta rohani dalam bejana tanah liat, membawa kita pada pesan penting ini: "Sebab bukan diri kami yang kami beritakan, tetapi Yesus Kristus sebagai Tuhan, dan diri kami sebagai hambamu karena kehendak Yesus (2 Kor 4,5)."

Kedua, rahmat kebangkitan adalah berkat melimpah dalam hidup, dengannya Kristus hidup dalam diri kita dan kita disucikan oleh tubuh dan darahNya. Apa yang dialami Paulus adalah berkat yang dimaktubkan dalam injil suci: "Berbahagialah mata yang melihat apa yang kalian lihat. Banyak nabi dan raja ingin melihat apa yang kalian lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kalian dengar tetapi tidak mendengarnya (Luk 10.23-24)". la mengalami belaskasih dan kerahiman dari cinta Allah sendiri.

 

Saudara-saudari terkasih...

Kita bersyukur untuk rahmat panggilan ini, seraya kita memohon rahmat Roh Kudus untuk membimbing dan menuntun kesepuluh anak dan sahabat kita ini. Imamat bukan jabatan duniawi untuk bisa adu gengsi dan adu dukungan, atau menjadi sebuah loncatan kehidupan baru, dengannya kita merasa di atas angin, di atas segala-galanya dan tidak mau rendah hati menerima kehidupan yang sederhana dan miskin. Imamat ini pun bukanlah hasil prestasi manusiawi belaka, melainkan rahmat cinta dari begitu banyak tangan yang terulur dan terbaktikan.

Ada dua pesan penting bagi 10 diakon yang terkasih.

Pertama, imamat itu adalah karya rahmat, maka belajarlah untuk memelihara rahmat ilahi dalam kehidupan setiap hari seraya meletakkan roh kerendahan hati untuk tetap taat, miskin dan murni untuk imamat yang kudus dan berahmat ini. Ketaatan, kemiskinan dan kemurnian itu bukanlah perkara intelektual semata, melainkan pengolahan hidup terus menerus hingga akhir hidup ini. Imamat mesti dicintai, karya pastoral apapun mesti dibawa dalam cinta yang tulus.

Kedua, belajarlah untuk melakukan kebaikan dalam setiap perjalanan imamat ini, dengan orang-orang yang ada di sekitar kita, hingga umat atau lembaga yang dipercayakan kepada kita. Imamat itu sama nilainya dalam Kristus, janganlah mudah putus asa hanya karena terseret pada arus dunia yang mengedepankan prestasi dan prestise, atau mengutamakan gelar dan pamor jabatan, atau pun ketenaran dan popularitas. Imamat dalam keheningan jauh lebih bermakna daripada imamat dalam kompetisi gengsi dan prestasi. Belajarlah mengolah kepahitan dalam hidupmu setiap saat dan temukanlah kegembiraan imamat dalam persaudaraan satu dengan sahabat imam yang lainnya.

Semoga Bunda Maria mendoakan ziarah panjang imamatmu ini dan Roh Kudus membimbing langkahmu senantiasa. Semoga Tuhan memberkati. Amin

NB: Homili ini disampaikan Mgr Ewald saat beliau menhabiskan 10 Imam Baru SVD di Seminari Tinggi Santu Paulus Ledalero Maumere pada Sabtu, 02 Oktober 2021.

 
More in this category: « MENJADI BAGIAN DARI ROTI HIDUP

Leave a comment

Make sure you enter all the required information, indicated by an asterisk (*). HTML code is not allowed.

Kegiatan Terbaru

PERAYAAN 40 TAHUN MISI SVD KALTIM-KASRI

25 November 2019
PERAYAAN 40 TAHUN MISI SVD KALTIM-KASRI

Tahun 2019 bagi SVD Kalimantan Timur (Kaltim) merupakan tahun penuh ma...

TEMU ANGGOTA TRY SUMUR YAKUB JABOTABEK

24 September 2019
TEMU ANGGOTA TRY SUMUR YAKUB JABOTABEK

Komunitas Transformative Youth (TRY) Sumur Yakub Wilayah Jabotabek men...

PERTEMUAN TIM SUMUR YAKUB (BPH & KAJS)

19 September 2019
PERTEMUAN TIM SUMUR YAKUB (BPH & KAJS)

Tim Sumur Yakub mengadakan pertemuan bersama di Rumah Retret SSpS Belo...

SIAPA BILANG KAUM MUDA ITU HOPELESS AND TAK BERKONTRIBUTIF

19 August 2019
SIAPA BILANG KAUM MUDA ITU HOPELESS AND TAK BERKONTRIBUTIF

Judul tulisan di atas mewakili isi tulisan ini dan sekaligus meringkas...

TEMU TRY SUMUR YAKUB KUPANG

06 June 2019
TEMU TRY SUMUR YAKUB KUPANG

Komunitas Transformative Youth (TRY) Sumur Yakub Cabang Kupang mengada...

Tentang Kami

Nama yang dipilih untuk sentrum ini adalah “Pusat Spiritualitas Sumur Yakub” yang mempunyai misi khusus yaitu untuk melayani, bukan hanya anggota tarekat-tarekat yang didirikan Santu Arnoldus Janssen saja tetapi untuk semua... selebihnya

Berita Terbaru

©2021 Sumur Yakub - Pusat Spiritualitas. All Rights Reserved.

Search