IBLIS tak hanya nama untuk penguasa kejahatan, tapi juga sering dipergunakan orang untuk menyebut sesamanya. Seorang artis di-bully netizen karena dia memaki bekas pacarnya, mengejek artis lain, dan menyindirnya berhati iblis. Sindiran “berhati iblis” itu membuat netter marah, sehingga mereka memborbadir artis ini dengan komentar pedas. Seorang pengusaha juga marah terhadap redaksi sebuah majalah karena memasang fotonya pada sampul majalah dengan beberapa angka yang menjadi simbol iblis di dahinya. Karikatur tersebut mungkin merupakan kritik, namun tetap terasa menghina dan merendahkan dirinya.
Sebutan iblis sering dikenakan orang kepada sesamanya, tak hanya kepada artis dan pengusaha, tetapi terhadap siapa saja. Sebutan iblis juga bisa terdengar di kalangan para murid dan keluarga Kristiani. Bahkan Petrus pun pernah disebut iblis oleh Yesus dan menjadi batu sandungan bagi karya perutusan-Nya.
Sebutan “iblis” bagi sesama merupakan ungkapan kekecewaan dan kemarahan atas sikap, perilaku, dan tindakan seseorang yang begitu jahat, seperti mencampakkan kekasihnya, usahanya merugikan dan membuat sengsara banyak orang, ayah tega menyetubuhi anak kandungnya, seorang ibu menyimpan jasad anak kandungnya di dalam freezer, serta berbagai kejahatan lainnya. Iblis rupanya bisa melakukan kejahatan dengan berbagai macam cara, seperti berwujud ular, makhluk hitam yang menakutkan, dan berwujud manusia, yang dekat dengan kehidupan kita.
Yesus marah dan mendamprat Petrus sebagai “iblis” karena reaksi Petrus atas pernyataan-Nya, yakni bahwa diri-Nya harus ke Yerusalem; akan menanggung banyak penderitaan, ditolak, dibunuh, dan akan bangkit. Petrus menegur Yesus dan berusaha mencegah-Nya, agar Yesus tidak mengalami hal-hal itu. Dalam diri Petrus, iblis menggoda agar Yesus berbelok arah dan tidak melanjutkan tugas perutusan-Nya. Godaan seperti ini juga pernah Dia alami di padang gurun. Iblis menggoda-Nya dengan memperlihatkan kemuliaan dan kemegahan duniawi. Semuanya akan diberikan kepada-Nya, kalau Dia bersedia menyembah iblis.
Yesus bersikap tegas terhadap godaan iblis, “Enyahlah Iblis!” Kata-kata ini diucapkan di padang gurun dan juga ditujukan kepada Petrus. Yesus memberi pengajaran dan contoh bagi para murid agar mereka pun mempunyai sikap tegas terhadap iblis; tidak kompromi terhadap godaan jahat, yang akan menjauhkan mereka dari Allah. Hanya Tuhanlah yang pantas disembah dan didengarkan; bukan godaan iblis.
Kata-kata keras terhadap Petrus sesungguhnya juga pembelajaran agar para murid mempunyai pemahaman yang benar akan Diri-Nya, sebagai Mesias, dan dapat menempatkan diri secara tepat. Mereka harus semakin memahami bahwa Mesias yang Dia perjuangkan tidak terletak di dalam kehebatan karya-Nya yang ajaib; tetapi pada Pribadi yang berkenan kepada Allah. Tugas perutusan-Nya sebagai Mesias tidak meniadakan sengsara, penderitaan, kematian, serta kebangkitan-Nya. Dia akan menerima dan mengalami semua itu sebagai wujud kesetiaan-Nya terhadap Allah, Bapa-Nya. Yang diminta dari para murid adalah percaya dan mengikuti-Nya; bukan untuk menentukan arah perutusan-Nya, mengambil alih tugas atau peran-Nya; juga bukan menjadi penghalang atau batu sandungan dalam melaksanakan karya penyelamatan-Nya.
Karena itulah, Yesus menegaskan tuntutan atau syarat bagi siapa saja yang mau menjadi pengikut-Nya, yakni harus menyangkal diri, memikul salib, dan mengikuti-Nya. Para murid harus bersedia berjalan di belakang, mengikuti jejak dan langkah Gurunya, tidak menempatkan diri di muka atau bahkan menghalangi-Nya. Mereka juga harus menyangkal diri, yakni meninggalkan pemikiran, gagasan atau pemahaman lain yang tak selaras dengan tugas perutusan Gurunya; meninggalkan sikap perilaku dan tindakan jahat yang bertentangan dengan kehendak Allah. Hal ini juga ditegaskan St Paulus yakni mengajak para murid untuk berubah atau memperbarui diri agar mampu membedakan mana kehendak Allah, mana yang baik, sempurna dan berkenan kepada Allah.
Semoga Minggu Kitab Suci Nasional yang dirayakan pada hari ini, menjadi kesempatan bagi kita untuk memahami Yesus Kristus secara utuh dan benar dan untuk menghayati panggilan hidup sebagai seorang murid dengan tepat. Sehingga kita tak jatuh ke dalam godaan Iblis dan tidak menjadi batu sandungan bagi sesama dan terlaksananya kehendak Allah.
Romo Tarcisius Puryatno
MANUSIA merupakan makhluk monodualistis, artinya makhluk individu dan juga makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial, manusia hidup saling membutuhkan. Manusia semakin menyadari individualitas melalui kehidupan bersama orang lain. Esensi manusia sebagai makhluk sosial adalah kesadaran manusia tentang status dan posisinya serta bagaimana tanggungjawab dan kewajibannya di dalam kebersamaan. Di lain pihak, manusia diciptakan berbeda satu sama lain. Perbedaan itu bisa menjadi alasan saling membutuhkan, tetapi juga menjadi ancaman yang melahirkan pertentangan.
Hidup bersama dalam nama Tuhan mengandung nilai-nilai kebersamaan sesuai dengan ajaran Tuhan. Seseorang disebut berdosa bila ia tak bisa hidup dalam kebersamaan dalam nama Tuhan. Dalam Injil Matius, Yesus memberi petunjuk bagaimana menyelamatkan orang yang hidup di luar kebersamaan. “Tegurlah dia empat mata, kalau tidak berhasil libatkan beberapa orang, dan kalau masih tidak berhasil sampaikan soal itu kepada jemaat. Kalau masih juga tidak berhasil maka orang tersebut dianggap tidak mengenal Tuhan sebagaimana dihayati dalam norma-norma kebersamaan” (bdk. Mat 18:15-20). Yang menarik dari petunjuk Yesus adalah sikap menghargai kebebasan individu dalam kebersamaan. Kesalahan dan dosa apapun yang dilakukan seseorang, jangan cepat menghakimi. Kita harus memberi ruang dan waktu, agar proses pertobatan dapat dijalani.
Makna kebersamaan terungkap dalam firman Tuhan: “sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” Makna kebersamaan menurut firman Tuhan hari ini, hendaknya kita hidup bersama orang lain dan kebersamaan itu dalam nama Tuhan.
Yesus memanggil para murid untuk hidup bersama sebelum mereka diutus. Tinggal bersama Yesus menjadi hal yang sangat penting dalam proses menjadi seorang murid-Nya. Hidup bersama Yesus membawa dampak dalam kehidupan mereka secara pribadi, maupun dalam kebersamaan. Perubahan apa yang terjadi dalam hidup mereka? Para murid terpanggil untuk tumbuh dalam persaudaraan yang akrab denganYesus. Panggilan ini terungkap secara khusus dalam Injil Yohanes. Dalam cerita panggilan yang pertama (Yoh 1:39), Yesus mengundang murid-murid-Nya dengan mengatakan, “Marilah dan kamu akan melihatnya”, Yohanes menambahkan, “dan hari itu mereka tinggal bersama-sama dengan Dia.”
Hidup bersama Yesus merupakan puncak dari persahabatan dengan-Nya. Pada awal Injilnya Yohanes mengatakan “Mereka tetap bersama-Nya” (Yoh 1:39) dan menjelang akhir Injilnya Yesus sendiri menegaskan agar para murid “tinggal di dalam-Nya” (Yoh 15:14). Tinggal dalam Yesus memang tujuan dari kerasulan. “Tinggalah di dalam Aku dan Aku tinggal di dalam kamu”(Yoh 15:4). Pandangan yang sama diungkapkan St Paulus bahwa misinya kepada bangsa-bangsa sebenarnya adalah Kristus dapat menjadikan hati mereka sebagai rumah-Nya (Ef 13:17).
Dengan hidup bersama Yesus dan mengikuti-Nya, para rasul perlahan-lahan mulai belajar untuk berpikir dan bertindak seperti Yesus. Mereka mulai melihat masalah dan memecahkan persoalan berdasarkan pandangan Yesus. Dengan demikian, mereka ikut berperan serta melaksanakan kasih Yesus.
Yesus mengajak para murid untuk bersama dalam satu kelompok, tapi kadang terjadi ketegangan misalnya ada beberapa yang “mencari muka” (Mrk 10:38). Ini karena mereka orang biasa dan tak sempurna. Namun, Yesus menerima mereka dan mengajak mereka untuk berkembang sampai sungguh-sungguh menyadari arti mengikuti Yesus dan bertindak seperti yang dikehendaki-Nya.
Berkumpul atau hidup bersama dalam nama Tuhan menjadi inti dari seluruh kegiatan apostolik. Prasyarat karya apostolik yang berhasil adalah adanya pengalaman hubungan pribadi yang akrab dengan Kristus. Apa yang kita wartakan sebenarnya adalah hubungan kita yang mendalam dengan Kristus sendiri. Seperti Yohanes kita hendaknya juga mewartakan pengalaman kebersamaan kita dengan Kristus (1Yoh 1:1-4).
Pengalaman hidup umat perdana menjadi pelajaran bagi kita untuk merealisasikan ungkapan Yesus dalam Matius 18:20: “sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” Gambaran tentang jemaat perdana dan bagaimana hidup bersama dalam nama Tuhan tertuang dalam Kisah Para Rasul 2:41-47 dan 5:32-35. Belajar dari umat perdana, maka kebersamaan dalam nama Tuhan membutuhkan pengakuan iman akan Yesus, mendengarkan firman-Nya, berdoa bersama, hidup berbagi khususnya bagi mereka yang berkekurangan.
Mgr John Philip Saklil
DUNIA terus saja terusik dengan masalah lapangan kerja. Ada pengangguran cukup masif di berbagai belahan dunia. Akibatnya berbagai upaya peningkatan kesejahteraan hidup umat manusia belum membuahkan hasil sesuai harapan. Benar, tanpa lapangan kerja yang memadai dengan sistem penggajian atau upah yang adil, manusia menghadapi ancaman nyata dan serius untuk terbebas dari kondisi kehidupan yang sulit. Bahkan orang-orang dengan sederet ijazah kesarjanaan dari berbagai lembaga pendidikan ternama pun mengalami kendala di pasar lapangan kerja. Ijazah yang diberikan kepada mereka rasanya tidak lebih dari secarik kertas yang tidak banyak membantu, sia-sia. Persoalan menjadi lebih pelik di kalangan angkatan kerja kurang terdidik dan kurang terampil. Dunia kapitalistik yang menggunakan indikator materialistik dan kalkulasi matematis mengukur kinerja kehidupan manusia, menjadikan mereka sebagai golongan terbuang yang makin terdepak ke pinggiran kehidupan.
Pengangguran masif yang melanda ratusan bahkan ribuan juta umat manusia sungguh mencemaskan, karena terkait langsung dengan perwujudan hidup yang penuh makna, hidup yang sempurna dan berkelimpahan di dalam Allah. Banyak pengangguran menjerit dan merintih di kedalaman hatinya, karena dirinya terasa tercabik dan tercampak seperti onggokan sampah tanpa makna.
Apakah Tuhan berdiam diri saja dan tidak menghiraukan rintihan terdalam hidup manusia? Ternyata Tuhan itu perancang dan organisator mahapiawai atas kehidupan yang sempurna dan utuh. Para pengangguran yang kelihatan santai tetapi sebetulnya digerogoti rasa cemas dalam hati, dipanggil dan diundang-Nya untuk masuk dan bekerja di kebun anggur-Nya. Tidak peduli dengan jam kerja standar yang diberlakukan para konglomerat dan pembesar dunia secara kasar, menindas dan umumnya tidak berkeadilan, Tuhan justru memperlakukan dan membayar semua pekerja dengan upah yang sama. Ukurannya bukan berapa yang harus dikerjakan dan dihasilkan, yang diimbali dengan berapa yang harus dibayar, tetapi apa yang paling pantas untuk menunjang kehidupan yang paling layak bagi setiap orang. Inilah makna “upah Kerajaan Allah” yang berlandaskan kasih dan kemurahan hati.
Kerajaan Allah yang intinya adalah panggilan dan undangan cinta kasih Allah bagi manusia untuk masuk dalam hidup yang membahagiakan, berarti pula pemberian kesempatan bagi setiap orang dari segala zaman dan segala penjuru dunia untuk menikmati kasih dan kebaikan Allah dalam hidup, di setiap detik kehidupan. Selalu ada yang terdahulu dan ada yang kemudian. Tetapi, semua orang diperlakukan Allah dengan cinta, perhatian, dan kebaikan yang sama. Demi keselamatan manusia, Allah tidak pilih kasih dan tidak mengenal preferensi. Dia berkehendak agar semua orang diselamatkan tanpa ada yang tercecer, terbuang, dan terjerumus dalam kebinasaan.
Kerajaan Allah bukan soal makanan, minuman, dan soal upah-mengupah dengan aturan formal-legal tetapi soal kebenaran, damai-sejahtera, sukacita, dan ikatan kasih dalam Roh Kudus. St Paulus dengan tegas, lantang, dan bangga berkata: “Upahku ialah aku boleh bekerja tanpa upah.” Tuhan Yesus pun berkata: “Janganlah kamu bersukacita karena iblis jatuh dari langit dan takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah terutama karena namamu tercatat dalam kerajaan surga.”
Dunia seringkali tidak mengalami keadilan dan sukacita sejati karena terbelenggu dalam pemahaman yang semata-mata materialistis bermotifkan segala perhitungan duniawi. Tuhan mengajak kita untuk sadar bahwa cinta kasih dan kemurahan hati-Nya jauh lebih agung dari setiap sukses dan prestasi yang mungkin kita ukir dalam kehidupan ini.
Kita tidak selamat karena jasa dan keberhasilan kita yang sering dibayang-bayangi kalkulasi materialistis dan ekonomi kapitalistis. Tuhan menyelamatkan kita, membayar upah “pekerjaan” kita karena Ia sungguh Mahabaik, Mahapengasih dan Mahamurah. Setiap disposisi iman kita, betapapun kecil dan serba kurang, selalu dihargai-Nya secara berlimpah-limpah. Upah yang dibayarnya selalu satu dinar, yaitu kelimpahan hidup yang cukup selama hidup di dunia ini dan sukacita kekal yang akan langgeng dalam kehidupan abadi kelak.
Tuhan memanggil kita untuk bertobat dan berkebajikan dalam tugas hidup dan pelayanan kita setiap hari. Semoga kita makin sadar untuk masuk dan berkarya di kebun anggur Tuhan sebelum terlambat. Niscaya kitapun akan menerima upah besar di dalam Kerajaan-Nya yaitu sukacita sejati dan kehidupan kekal di surga.
Mgr Dominikus Saku
BARANGKALI spiritualitas “ingkar diri” tidak laku lagi di pasar hidup generasi milenium ini, tapi hemat penulis ini mestinya tetap harus relevan bagi seorang murid Yesus Kristus. Hal ini terutama ketika harus bergulat dengan kecenderungan “ingat diri”, maka dia akan merasakan ketegangan batiniah yang menguji kemuridannya pada Kristus Tuhan. Firman Tuhan hari Minggu ini menantang sekaligus memandu kita murid-murid-Nya.
Dengan kata dan tindakan yang diteladankan-Nya, Yesus menandaskan pentingnya “Spiritualitas Ingkar Diri”. Dalam gaya bahasa perumpamaan (bdk. Perumpamaan tentang dua orang anak, Mat 21:28-32) Dia mengingatkan orang-orang yang punya keyakinan diri di zona aman, merasa percaya diri tentang jaminan hidup selamat. Sementara mereka sesungguhnya bukan melaksanakan kehendak Bapa-Nya, tetapi mereka melekat pada kesalehan kultis, privilese status, kebanggaan primordialis, dan interese egosentris. Tanpa sadar “diri sendiri” menjadi pusat keseharian perilaku hidupnya dan mengabaikan kehendak Tuhan Allahnya.
Suara kenabian Yehezkiel (Yeh 18:25-28) sudah lebih awal mengungkapkan kritik yang sama tentang Israel yang merasa nyaman dengan privilesenya di mata Allah, lalu mengira secara otomatis menjadi “orang baik” dan selamat. Padahal mereka tidak berbuat baik, sebaliknya yang mereka lakukan adalah perbuatan yang jahat. Lalu mereka tega menilai bahwa Allah keliru menanggungkan kutuk dosa leluhur mereka kepada anak-cucunya, “Tetapi kamu berkata: Tindakan Tuhan tidak tepat! Dengarlah dulu, hai kaum Israel, apakah tindakan-Ku yang tidak tepat ataukah tindakanmu yang tidak tepat?” (Yeh 18:25).
Awasan seperti di atas ini mestinya tetap aktual untuk segala zaman. Ini tidak terutama sebagai ancaman, tetapi sebagai hikmah ilahi yang menuntun perilaku hidup kemuridan kita di jalan yang diretas Yesus. Kata-kata Yesus dikonkritkan-Nya dengan tindakan nyata. Ia yang adalah Allah turun serendah-rendahnya menjadi manusia, hamba Allah. Dengan itu, Ia memberi contoh bagaimana manusia dapat melepaskan diri dari wajah-wajah kelekatan pada kecenderungan “ingat diri” yang primordialistis dan konyol.
Yesus menawarkan jalan pertobatan untuk berubah menjadi murid-murid-Nya yang mampu dan rela “ingkar diri” demi idealisme kemuridan sejati di jalan Yesus. Teladan “kerendahan hati” Guru kita Yesus tidak ada tandingannya. Menjadi murid Yesus yang rendah hati, adalah pintu masuk kepada sikap tahu diri, bertobat, dan mencintai kesatuan erat dengan Sang Guru utama, Yesus Kristus. Karena rasul Paulus meyakini bahwa yang sanggup mengubah seseorang menjadi manusia baru, yang kaya dengan kasih kebaikan dari Tuhan Allahnya untuk diabdikan keluar dirinya, hanyalah Yesus Kristus (bdk. Fil 2:1-5).
Refleksi singkat tersebut meneguhkan keyakinan iman penulis, untuk memberanikan diri menyimpulkan, bahwa awasan Yeheskiel, Paulus, dan Yesus mestinya dipahami dan diyakini, tidak hanya inspiratif tetapi juga imperatif untuk menguji kesejatian kemuridan seseorang kepada Yesus Kristus. Tak patut membuang hikmah yang mahal ke mulut babi, karena di dalam “hikmah” selalu terkandung jaminan untuk seseorang bisa meyakini “nikmatnya” bisa hidup benar dan bermutu, serta boleh mengharapkan hidup yang selamat, baik di dunia ini maupun kelak bersama Guru dan Sahabat seperjalanan kita, Yesus Kristus yang sudah dimuliakan selamanya. Tuhan memberkati. Amin.
Mgr Vincentius Sensi Potokota
Bagaimana menyelaraskan nilai-nilai iman sejati dengan kecanggihan art...
Pada hari Sabtu, 15 Oktober 2022 yang lalu, Komunitas Verbum Domini (K...
Bible Zoom-Youtube Live-Streaming diadakan lagi oleh Tim Pengurus Pusa...
Tim Pengurus Pusat Spiritualitas (Puspita) Sumur Yakub SVD-SSpS Indone...
Tim Pengurus Pusat Spiritualitas (Puspita) Sumur Yakub SVD-SSpS Indone...
Nama yang dipilih untuk sentrum ini adalah “Pusat Spiritualitas Sumur Yakub” yang mempunyai misi khusus yaitu untuk melayani, bukan hanya anggota tarekat-tarekat yang didirikan Santu Arnoldus Janssen saja tetapi untuk semua... selebihnya